Saturday, 9 March 2013

PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH KEHILANGAN PASANGAN TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
        Dengan bertambahnya usia harapan hidup orang Indonesia, maka jumlah manusia lanjut usia di Republik ini akan bertambah banyak pula. Sehingga masalah penyakit akibat ketuaan akan semakin banyak kita hadapi. Salah satu penyakit yang harus diantisipasi adalah semakin banyaknya penyakit  osteoporosis dan patah tulang  yang diakibatkannya (Bayu Santoso, 2001)
        Pada tahun 60 tahun ke depan akan terjadi perubahan demografik yang akan meningkatkan populasi warga usia lanjut dan meningkatkan terjadinya patah tulang karena osteoporosis. Jumlah penderita patah tulang akibat osteoporosis yang pada tahun 1990 mencapai 1,7 juta akan menjadi 6,3 juta pada tahun 2050, kecuali jika ada tindakan pencegahan yang agresif (Joewono Soeroso, 2001).
        Di Surabaya berdasarkan pengamatan Prof. Dr. Djoko Roeshadi pada penelitiannya tahun 1997, 26% diantara wanita pasca menoupouse mengalami osteoporosis.
        80% osteoporosis terjadi pada wanita terutama yang sudah mencapai usia menoupouse. Osteopororis sebetulnnya adalah berkurangnya masa tulang yang kemudian diikuti dengan kerusakan arsitektur tulang, sehingga tulang mudah mengalami patah tulang (R.  Prayitno Prabowo, 2001).   
        Osteoporosis didefinisikan sebagai kelainan skeletal yang ditandai dengan adanya gangguan kekuatan tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lebih besar resikonya untuk mengalami patah tulang. (Edi Mutamsir, 2001).
        Osteoporosis dibagi menjadi tiga yaitu osteoporosis primer, osteoporosis sekunder dan osteoporosis idiopatik. Dalam penelitian ini  peneliti membatasi pada osteoporosis primer. Menurut Albright JA tahun 1979. Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan merupakan kelompok yang terbesar. Ada dua faktor resiko yang menjadi penyebab utama terjadinya osteoporosis yaitu faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah.
        Dengan mengetahui faktor resiko osteoporosis, kita dapat memperkirakan penyebab atau suatu hal yang dapat mempermudah terjadinya osteoporosis. Konsep ini sangat bermanfaat dalam upaya mengurangi angka kecacatan.

1.2    Identifikasi Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan tersebut diatas, bahwa insiden osteoporosis dari penderita yang masuk di rumah sakit laboratorium ilmu bedah orthopaedic RSUD Dr Soetomo Surabaya pada tahun 1991 telah merawat penderita lanjut usia yang telah mengalami patah tulang paha sebanyak (15%) dari seluruh patah tulang pada kelompok umur yang sama. Wanita post menoupouse (80%) lebih banyak terkena dari pada laki-laki (20%), usia kurang dari 50 tahun lebih jarang terkena (15%) dari pada usia lebih dari 50 tahun (84,1%). Dari semua penderita osteoporosis yang mengalami patah tulang (20%) meningal satu tahun pasca patah tulang (25%) memerlukan fasilitas bantuan untuk kehidupan sehari-hari dan (55%) mengalami ketidakmampuan untuk mobilisasi seumur hidup.
    Angka kecacatan yang diakibatkan oleh penyakit osteoporosis masih cukup tinggi di Indonesia, khususnya di RSUD Dr Soetomo yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor resiko yang dapat mengakibatkan penyakit osteoporosis.

1.3 Pembatasan dan Perumusan Masalah
        Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka dapatlah dirumuskan masalah dari penelitian ini adalah faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis di ruang rawat inap bedah (bedah B dan bedah E) di RSUD Dr Soetomo Surabaya.

BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

II.1    Tujuan Penelitian
II.1.1     Tujuan Umum
            Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor  yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis di ruang rawat inap (bedah B dan bedah E) RSUD Dr Soetomo Surabaya.

II.1.2    Tujuan Khusus
                Tujuan khusus penelitian ini adalah :
1.    Mempelajari karakteristik penderita osteoporosis
2.    Mempelajari pengaruh merokok terhadap osteoporosis
3.    Mempelajari pengaruh alcohol terhadap osteoporosis
4.    Mempelajari pengaruh menoupouse terhadap osteoporosis
5.    Mempelajari pengaruh kopi terhadap osteoporosis
6.    Mempelajari pengaruh latihan terhadap osteoporosis.

II.2     Manfaat Penelitian
                Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, antara lain :
1.    Sebagai bahan masukan bagi instansi terkait (RSUD Dr Soetomo) dalam penanggulangan penyakit osteoporosis  di masa yang akan datang
2.    Sebagai bahan bagi masyarakat maupun peneliti berikutnya yang akan melakukan penelitian yang berhubungan dengan  osteoporosis.
3.    Sebagai wahana bagi penulis untuk mengembangkan dan mengaitkan pengetahuan  serta ketrampilan penulis dalam penelitian.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1        Definisi Osteoporosis
            Osteoporosis adalah kondisi dimana terjadi peningkatan porositas dari tulang. Atau dengan kata lain adalah sugresif dari masa tulang, sehingga memudahkan terjadinya patah tulang (Albright  JA, 1979).
            Bagian tulang yang umumnya diserang adalah (Djoko Roeshadi, 2001):
1.    Pada tulang radius distal
2.    Pada tulang vertebrae
3.    Pada tulang kollum femur / pelvis

III.2        Pembagian Osteoporosis
            Chehab Rukmi Hylmi (1994) membagi osteoporosis sebagai berikut :
1.    Osteoporosis Primer
2.    Osteoporosis Sekunder
3.    Osteoporosis Idiopatic

III.2.1    Osteoporosis Primer
            Osteoporosis primer adalah suatu osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dengan jelas ini merupakan kelompok terbesar.
Osteoporosis primer dibagi menjadi :

1.    Type I
                Osteoporosis yang timbul pada wanita post menoupouse
2.    Type II
                Osteoporosis yang terdapat pada kedua jenis kelamin   dengan usia yang semakin bertambah (senilis)

III.2.2    Osteoporosis Sekunder
        Osteoporosis sekunder adalah  suatu osteoporosis yang diketahui penyebabnya  jelas.
Biasanya disebabkan oleh :
1.    Endcrine disease
2.    Nutritional causes
3.    Drugs

III.2.3    Osteoporosis Idiopatic
        Yang dimaksud dengan osteoporosis jenis ini adalah terjadinya pengurangan masa tulang pada :
1.    Juvenile
2.    Adolesence
3.    Wanita pra menoupouse
4.    Laki-laki berusia muda /pertengahan
5.    osteoporosis jenis ini lebih jarang terjadi.



III.3        Patofisiologi Osteoporosis
            Sel tulang terdiri atas osteoblas, osteossit dan  osteoclas yang dalam aktifitasnya mengatur homeostasis kalsium yang tidak  berdiri sendiri melainkan saling berinteraksi. Homeostasis kalsium pada  tingkat seluler didahului penyerapan tulang oleh osteoclas  yang memerlukan waktu 40 hari disusul fase istirahat dan kemudian disusul fase pembentukan tulang kembali oleh osteoblas yang memerlukan waktu 120 hari  (Kamis, 1994).
            Dalam  penyerapannya osteoclas melepas transforming  Growth Factor yang merangsang aktivitas awal osteoblas dalam keadaan normal kwantitas dan kwalitas penyerapan tulang oleh osteoclas sama dengan kwantitas dan kwalitas pembentukan tulang baru oleh osteoclas. Pada Osteoporasis penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan baru (Djoko Roeshadi, 2001).

III.4        Gejala dan Tanda Osteoporosis
            Pada awalnya penyakit ini tidak menimbulkan gangguan apapun. Namun dalam  kondisi yang sudah parah gambaran klinik osteoporosis adalah sebagai berikut (Djoko R, 2001)
1.    Nyeri
2.    Tinggi badan berkurang /memendek
    Dalam mendiagnosis osteoporosis tidak hanya berdasarkan pemeriksaan klinik serta radiologis saja. Dengan pemeriksaan penunjang yaitu BMD (Bone Mineral Density) dan DEXA (Dual Energy X-Ray Absorpsiometry) diagnosis osteoporosis menjadi lebih pasti.
III.5        Faktor Resiko Osteoporosis
            Dikenal beberapa faktor resiko untuk terjadinya osoteoporosis. Faktor resiko ini dibagi menjadi dua (R. Prayitno Prabowo, 2001).
1.    Faktor resiko yang tidak bisa dirubah
-    Usia
-    Jenis kelamin
-    Ras
-    Riwayat Keluarga /keturunan
-    Bentuk tubuh
2.    Faktor resiko yang dapat dirubah
-    Merokok
-    Alcohol
-    Defisiensi vitamin d
-    Kafein
-    Gaya hidup
-    Gangguan makan (anoreksia vervusa)
-    Defisiensi esterogen pada menoupouse alami atau menoupouse karena operasi
-    Penggunaan obat-obatan tertentu seperti :
•    Diuretik
•    Glukoortikoid
•    Anti konvulsan
•    Hormon tiroid berlebihan
            Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pembahasan mengenai faktor resiko akan dibatasi pada merokok,  alcohol, menoupouse, kafein, latihan, umur, jenis kelamin, keturunan.
                *    Merokok
    Gaya hidup modern, tang  telah  melegalkan wanita merokok di depan umum, semakin membuka banyaknya kasus osteoporosis Nikotin dalam rokok menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang.  Sehingga proses pembentukan tulang oleh osteoblast menjadi melemah (Djoko R, 2001).
                *    Alkohol
            Dampak dari konsumsi alcohol pada osteoporosis berhubungan dengan jumlah alcohol yang dikonsumsi. Konsumsi yang berlebihan akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang. (R. Prayitno, 2001).
                *    Menopouse
                Di sini kadar esterogen menurun. Dengan menurunnya kadar esterogen resorbsi tulang menjadi lebih cepat, sehingga akan terjadi  penurunan masa tulang yang banyak. Bila tidak segera diintervensi akan cepat terjadi osteoporosis (RP 2001).
            *    Kafein
                Mengkonsumsi atau minum kopi diatas 3 cangkir per hari, menyebabkan tubuh selalu ingin  kencing. Keadaan tersebut menyebabkan kalsium banyak terbuang bersama  air kencing (Djoko R, 2001).
                *    Latihan /aktivitas
                Imobilisasi dengan penurunan penyangga berat badan merupakan  stimulus penting bagi resorppsi tulang. Beban fisik yang terintegrasi merupakan  penentu dari puncak masa tulang (Bayu Santoso, 2001).
                *    Umur- jenis kelamin – keturunan
                Dari segi  usia pada laki-laki dan wanita usia diatas 40 tahun merupakan usia terkenaa osteoporosis. Sehingga sebelum mencapai usia ini, kekuatan dan gizi tulang harus selalu diperhatikan, agar penurunan  kekuatan tulang tidak begitu curam.
            Dari perbedaan jenis kelamin dapat diketahui bahwa kerapuhan tulang banyak diderita oleh wanita yang menoupouse. Hal ini dikarenakan hormon esterogennya menurun drastis.
Sejarah keluarga juga mempengaruhi penyakit ini, pada keluarga yang mempunyai sejarah osteoporosis, anak-anak yang dilahirkannya enderung akan mempunyai  penyakit yang sama (Djoko R, 2001).

III.6        Tata Laksana
            Tata laksana disini menurut Djoko Roeshadi dianjurkan untuk prevensi maupun pengobatannya. Tujuan prevensi adalah untuk mencegah terjadinya osteoporosis dengan menghindari atau mengurangi faktor resiko osteoporosis. Prevensi ini bisa dilakukan dengan melakukan penyuluhan terhadap penduduk, agar mereka dapat mengendalikan hal-hal yang dapat meningkatkan terjadinya  ostreoporosis seperti misalnya :
1.    Mencegah dan menghentikan kebiasaan seperti merokok dan minum alcohol
2.    Mengatur diet yang baik / dengan benar seperti mengkonsumsi sayuran, susu tinggi kalsium dll.
3.    Olah raga teratur

BAB IV
KERANGKA KONSEPTUAL

V.1        Kerangka Konseptual














            Pada gambar diatas dapat diketahui bahwa ada beberapa macam faktor resiko osteoporosis yang ingin diketahui oleh penulis antara lain merokok, alcohol, menoupouse, kafein, latihan, usia, jenis kelamin dan keturunan. Dimana penuis ingin mengetahui  apakah ada pengaruh faktor-faktor resiko tersebut terhadap penyakit osteoporosis.


IV.2    Hipotesis
Hipotesis I
Ada  pengaruh merokok terhadap osteoporosis

Hipotesis II
Ada pengaruh alkohol terhadap osteoporosis

Hipotesis III
Ada pengaruh menoupouse terhadap osteoporosis

Hipotesis IV
Ada pengaruh konsumsi kafein terhadap osteoporosis

Hipotesis V
Ada pengaruh latihan  osteoporosis

Hipotesis VI
Ada pengaruh umur terhadap osteoporosis

Hipotesis VII
Ada pengaruh jenis kelamin terhadap osteoporosis

Hipotesis VIII
Ada pengaruh keturunan terhadap osteoporosis

BAB V
METODE PENELITIAN

V.1    Rancang Bangun Penelitian
            Berdasarkan tujuan penelitian maka rancang bangun penelitian ini menggunakan metode penelitian yang bersifat observasional analitik, yaitu ditujukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya variable yang diteliti.
            Berdasarkan pelaksanaannya maka rancang bangun penelitiannya dengan menggunakan jenis survey, yaitu penelitian  yang mengambil sample dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan datanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan case control.

V.2    Populasi
            Populasi penelitian ini adalah semua penderita osteoporosis di ruang rawat inap RSUD Dr Soetomo, tanggal 21 April – 20 Juni 2002.

V.3    Sampel
a.    Kasus    :    Penderita yang rawat inap dengan diagnosa osteoporosis di ruang rawat inap RSUD Dr Soetomo
        Untuk meminimalkan kesalahan pada  populasi maka cara pengambilan sampel menggunakan urmus :
        SD    =    n-1
        Keterangan :
        SD    =    standard deviasi
        N     =    jumlah total sampel
b.    Kontrol    :    Penderita yang tidak menderita osteoporosis yang mengalami rawat inap di ruang bedah B dan bedah E yang diambil secara acak.
            Perbandingan kasus dan kontrol 1 :1

V.4    Tempat dan waktu pengambilan data
    -    Tempat pengambilan data
Penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap RSUD Dr Soetomo di Surabaya sebagai rumah sakit terbesar di Indonesia bagian Timur.
    -    Waktu pengambilan data
        1 April 2002-20 Juni 2002

V.5        Variabel
-    Variabel terikat     =     penderita osteoporosis
-    Variable Bebas     =    1.     Umur
                                        2.     Jenis kelamin
3.    Keturunan
4.    Merokok
5.    Alkohol
6.    Menoupouse
7.    Kafein
8.    Latihan
V.6        Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
        -    Data Primer
Wawancara dengan bantuan kuisioner kepada pemerintah atau keluarga penderita
-    Data Sekunder
Data penderita yang terkena osteoporosis dari tanggal 21 April – 20 Juni 2002 yang dipilih sebagai sampel.

V.7        Teknik Analisa
        Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk diskriptif,  yang selanjutnya akan dianalisa dengan menggunakan uji statistik dengan regresi logistik dengan tujuan untuk mengetahui faktor mana yang berpengaruh terhadap timbulnya terikat.