Sunday, 17 March 2013

Askep klien dengan penyakit kronik


Askep klien dengan penyakit kronik

A.    Hubungan Pskiatri Dengan Kondisi Medis
Kesehatan fisik juga dapat mempengaruhi cara individu untuk berespon terhadap stress atau gangguan psikososial. Semakin sehat individu, semakin baik kopingnya terhadap stress dan penyakit.Penyakit kronik pun menjadi penghambat individu untuk melakukan koping. Semua penyakit fisik mempunyai efek  psikologi. Wanita yang menemukan benjolan  di payudaranya atau pria pernah mengalami IMA bisa memberikan berbagai macam reaksi. Pola respon ini dapat sehat atau tidak sehat.Ansietas  dandepresi  merupakan respon yang lazim dan jelas, tetapi dapat sangat bervariasidalam derajat dan ketepatan. Penyangkalanterhadap penyakit dan keparahannya  bisa timbul dan dapat menjadi preokupasi
Faktor-Faktor  Yang Mempengaruhi Gangguan Psikiatri Dengan Penyakit Kronik
1.      Faktor Intrinsik
a.       Perasaan Memiliki
Perasaan memiliki pada individu terkait erat dengan kesehatan fisik individu.Perasaan memiliki terbukti meningkatkan kesehatan, sedangkan tedak adanya perasaan ini justru mengganggu kesehatan.Perasaan memiliki mendeskripsikan kebuthan dasar psikososial manusia.Nilai mengacu pada perasaan dihargai dan merasa berguna.

b.      Faktor Budaya
Menurut Biro Sensus Amerika Serikat, pada tahun 2000, penduduk AS adalah anggota budaya dengan berbagai macam etnik, dan pada tahun 2050, populasi bukan kulit putih akan meningkat lebih dari tiga kali lipat . komposisi masyarakat yang berubah ini memiliki implikasi pada professional perawatan kesehatan, yang sebagian besar adalah orang kulit putih dan tidak mengenal keyakinan dan praktik kebudayaan yang beragam. Asuahan keperawatan yang kompeten secara budaya berarti peka terhadap isu yang terkait denagn budaya, ras, jenis kelami, orientasi seksual, kelas social, situasi ekonomi, dan faktor  lain

Ras    Keyakinan Tentang Sakit: penyebab Gangguan Jiwa    Konsep Sehat
Orang Amerika-Afrika    Tidak ada keseimbangan spiritual    Perasaan sejahterah, mampu memenuhi harapan peran, bebas dari nyeri atau stress yang berlebihan
Cina    Tidak ada keharmonisan emosi, roh jahat    Kesehatan dipertahankan oleh keseimbangan antara yin dan yang, tubuh , pikiran, dan roh
Rusia    Stress dan pindah ke lingkungan yang baru    Defekasi yang teratur dan tidak ada gejala penyakit
Asia Selatan    Diguna- guna oleh musuh, menjadi korban roh jahat    keseimbangan antara fungsi tubuh

c.       Biologis
•         Nyeri
Penelitian laboratorium atas hewan dan manusia cenderung menyalahkan pandangan nyeri sebagai sensasi diskrit.Dalam klinik spesialis nyeri, factor rumit yang menimbulkan pengalaman nyeri untuk pasien dipertimbangkan.
•         Ketulian
Depresi merupakan reaksi yang paling sering timbul ketika mengetahui bahwa gejala ketulian mulai terasa.pada 40%  penderita gangguan pendengaran  membuat semakin sulitnya untuk berkomunikasi sehingga mempengaruhi efek psikologi penderita.

d.      Spiritual
•         Kematian
Kemunduran kegamaan berhubungan dengan proses penyakit menimbulkan sikap penyangkalan, marah,  dandepresi. Pada saat berhadapan dengan penyakit yang dipresepsikan  akan membawa Mereka pada kematian
2.      Faktor Ekstrinsik
a.       Jaringan Sosial dan Dukungan Sosial Yang Kurang
Studi menemukan bahwa kurangnya dukungan social dapat  memperburuk kesehatan dan koping individu menghadapi penyakit yang menyerangnya.

B.     Psikofisiologi dan stress
Pasien yang datang dengan gejala psikologi sering mempunayi penyebab fisik, sebagai penyokong atau penyerta. Depresi dalam pria usia pertengahan bias menjadi gejala dini keganasan penyakit. Diabetes, deficit vitamin B12, meningiom frontalis dan penyakit thyroid sering tidak terdiagnosis. Survey pada pasien yang  mengunjungi klinik rawat jalan
Adalah Canon (1871-194 yang mula-mula mnghubungkan respon fisiologi dengan emosi serta menjelaskannya sebagai reaksi “fight atau flight” , “Ini adalah respon tubuh terhadap ancaman atau bahaya. Selama reaksi ini, hormon tertentu seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan, mempercepat detak jantung, memperlambat pencernaan, shunting aliran darah ke kelompok otot besar, dan berbagai perubahan lainnya fungsi saraf otonom , memberikan tubuh ledakan energi dan kekuatan. Awalnya bernama karena kemampuannya untuk memungkinkan kita untuk secara fisik melawan atau melarikan diri ketika menghadapi bahaya, sekarang diaktifkan dalam situasi di mana respon tidak tepat, seperti di lalu lintas atau selama hari stres di tempat kerja. Ketika ancaman dianggap hilang, sistem dirancang untuk kembali ke fungsi normal melalui respon relaksasi , tapi di masa kita stres kronis , ini sering tidak terjadi cukup, menyebabkan kerusakan pada tubuh.”
Dalam satu dua minggu setelah infark (IMA), sampai 30% pasien ditemukan memperlihatkan gangguan psikologi, apabila segi psikologi rehabilitasinya diabaikan maka akan terjadi kecacatan yang lebih tinggi lagi. Dalam kasus demikian psikiater mampu mengambil anamnesis lengkap mencakup factor lingkungan, emosi dan personalitas.


C.    Komplikasi
Faktor psikologis yang mempengaruhi masalah medis dapat di diagnosis sebagai gangguan mental, seperti angguan depresif mayor yang mempengaruhi pemulihan klien dari infark miokardium atau skizofernia yang memperumit masalah ginjal kronik klien.Ansietas dan depresi dapat memperburuk berbagai penyakit dan dapat memperpanjang periode penyembuhan. Seringkali gaya kopin tertentu dapa menganggu kesehatan , misalnya merokok, makan berlebihan, serta perilaku seksual yang tidak aman.
Para ilmuwan telah mengetahui sejak lama bahwa orang berespons terhadap stress baik pada tingkat psikologis maupun fisiologis. Riset selanjutnya menunjukkan bagaiman system imun berinteraksi dengan proses neurobiologist. Ketika seseorang mengalami stress berkepanjangan, kadar epinefrin, noeepinefrin, dan kortisol meningkat. Pelepasan hormone stress  yang terus menerus dapat merusak neurologis dan pola fisiologis normal.
D.    Asuhan Keperawatan
Enam fase atau langkah dari proses keperawatan tersebut meliputi pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, pengidentifikasian autoome, perencanaan , implementasi dan evaluasi.
Kegiatan/ langkah-langkah dari proses jiwa dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis,psikologis,sosial,spiritual.
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa factor predisposisi, factor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien.perilaku atau kegiatan yang perlu dilakukan oleh perawat adalah membina hubungan saling percaya dengan melakukan kontrak dengan klien, mengkaji data dari klien dan keluarga, memvalidasi data dengan klien mengorganisasi dan mengelompokkan data, dan menetapkan kebutuhan dan atau masalah klien.
2.      Penentuan diagnosa
Menurut Gordon, diagnose keperawatan adalah diagnosis yang dibuat oleh perawat profesinal yang menggambarkan tanda dan gejala yang menunjukkan masalah kesehatan yang dirasakan  klien dimana perawat yang berdasarkan pendidikan dan pengalaman mampu menolongnya.
Pernyataan diagnose terdiri dari masalah atau respon klien dan satu atau lebih factor yang berhubungan yang mempengaruhi atau berkontribusi pada masalah atau respon klien.tanda dan gejala atau batasan karakteristik adalah pengkajian subyektif dan obyektif yang mendukung diagnose keperawatan; ini biasanya ditulis untuk menkomunikasikan persepsi perawat dari factor yang berhubungan atau berkontribusi untuk etiologinya.
DIAGNOSA KEPERAWATAN: KETIDAKEFEKTIFANKOPING INDIVIDU
Kemunkinan Penyebab:    Batasan Karakteristik:
•         Disfungsi keluarga.
•         Ansietas atau depresi hebat.
•         Kurang dukungan emosi.
•         Menggunakan represi untuk mengatasi konflik.    •         Pikiran disibuki dengan perasaan – perasaan negatif.
•         Ketrampilan koping sedikit atau tidak ada sama sekali.
•         Menyatakan perasaan tidak bertenaga atau tidak berdaya.
•         Tidak mampu menghubungkan gejala fisik dengan distress/tekanan emosi.
                                   
•         Tujuan Jangka – Panjang:
Klien mengatakan perasaannya dari pada mengekspresikan perasaan tersebut melalui gejala – gejala fisik.
Tujuan Jangka – Pendek 1 : Klien menyatakan semua perasaannya tentang stressor psikososial.
Intervensi dan Rasional
•   Dorong klien untuk mendiskusikan peristiwa dan situasi kehidupan yang penuh stress dimasa lalu dan masa kini. Meminta klien untuk meninjau kembali isu – isu dan peristiwa dalam kehidupan mereka dapat meningkatkan kesadaran – diri dan identifikasikan situasi yang bermasalah.
•         Minta klien mengidentifikasikan dan membicarakan perasaannya yang terkait dengan situasi kehidupan.  Klien perlu mengakui perasaannya dan tidak menolak atau memendam perasaan tersebut.
•         Bantu klien untuk mulai mengeksplorasi konflik interpersonal dan perasaan yang menyertainya. Mengungkapkan perasaan adalah langkah pertama dalam mengatasi isu – isu hubungan yang tidak terselesaikan.
•         Dorong klien untuk mengkaji situasi kehidupan saat ini yang menyebabkan perasaan yang tidak berdaya. Meminta klien mengeksplorasi situasi yang mencetuskan rasa tidak berdaya dapat meningkatkan pemahaman bahwa mengalami rasa tidak berdaya menghalangi koping yang efektif.
Tujuan Jangka Pendek 2 :Klien mengidentifikasikan hubungan antara stersor psikososial dan penyakit fisik serta membuat sebuah rencana yang meningkatkan kesejahtraan pribadi.
Intervensi Dan Rasional
•         Jelaskan kepada klien tentang pentingnya mengidentifikasikan dan mengekspresikan emosi. Kadang – kadang klien menganggap bahwa ekspolrasi perasaan merupakan hal yang tidak perlu karena mereka yakin bahwa penatalaksanaan medis atau bedah akan menghilangkan ketidaknyamanan atau masalah.
•         Fokuskan diskusi pada menghubungkan emosi yang kuat dengan sensasi fisik dan perkembangan gejala. Klien perlu mengembangkan kesadaran akan adanya hubungan antara perasaan dan gejala – gejala fisik.
•         Dorong klien untuk meninjau kembali reaksi pribadi terhadap situasi saat ini yang mencetuskan rasa marah, rasa takut, atau emosi negative lainnya. Eksplorasi reaksi normal klien terhadap emosi negative yang kuat mungkin menunjukan bahwa klien menjadi sangat keras dalam mempertahankan dirnya melaan ansietas.
•         Dorong klien untuk mengkaji konsekuensi jika ia terus – menerus menggunakan strategi koping yang tidak sehat. Klien harus menyadari bahwa mempertahankan penggunaan pertahanan diri yang tidak sehat melawan ansietas dan terus – menerus bersandar pada ketrampilan koping yang buruk akan membawanya kepada episode penyakit yang lebih lanjut.
•         Ajari dan pantau srategi koping yang digunakan untuk mengatasi ansietas, seperti relaksasi dan latihan pernafasan, latihan atau aktivitas fisik, dan teknik penatalaksanaan stress. Intervensi ini dapat membantu klien mengurangi stress dan mengurangi episode penyakit fisik.

DIAGNOSA KEPERAWATAN: PERUBAHAN PERFORMA PERAN
Kemungkinan Penyebab:    Batasan Karakteristik:
•         Malah kesehatan atau ketidakmampuan fisik.
•         Masalah presepsi atau kognitif.
•         Hubungan keluarga disfungsional.
•         Riwayat stressor psikososial.    •         Masalah fisik yang memerlukan perubahan peran.
•         Hubungan yang terganggu.
•         Isolasi social.
•         Kesulitan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari.

Tujuan Jangka – Panjang:
Klien melanjutkan tanggung jawab peran yang sesuai dengan status kesehatan saat ini dan dengan kehilangan atau keterbatasan yang baru saja terjadi.
Tujuan Jangka – Pendek 1 :klien mendiskusikan bagaimana masalah emosi atau fisik mengganggu perilaku yang merupakan bagian dari performa peran fungsional.
Intervensi Dan Rasional
•         Minta klien mengidentifikasikan peran mayor yang dimainkan dalam keluarga, pekerjaan, dan selama melakukan aktivitas – aktivitas sosial. Pengkajian dasar mengenai peran umum klien dalam keluarga, situasi pekerjaan, dan juga dalam situasi sosial sangat diperlukan.
•         Diskusikan bagaimana penyakit fisik atau sters psikososial mempengaruhi harapan dan performa peran klien di dalam keluarga. Perubahan peran klien harus diakui sebelum dibuat rencana untuk mengatasi perubahan peran klien.
•         Tentukan kekhwatiran klien mengenai perubahan peran dan apakah perubahan tersebut dianggap bersifat sementara atau menetap. Dengan menentukan sifat dan ruang lingkup perubahan klien dapat membuat strategi jangka pendek atau jangka panjang yang sesuai untuk mengatasi perubahan tersebut.
•         Minta klien mengungkapkan perasaannya akibat kehilangan peran yang teridentifikasikan, konflik, atau kekurangannya. Banyak klien yang memendam atau menolak emosi yang muncul ketika terjadi perubahan peran.
•         Bicarakan dengan klien tentang bagaimana upaya untuk memendam emosi dapat menyebabkan gejala fisik. Ekspresi klien atas emosi yang dipendam sebelumnya dapat membantunya mengatasinya gejala – gejala fisik.
Tujuan Jangka – Pendek 2 : Klien mengungkapkan pemahamannya mengenai perilaku khusus yang diperlukan untuk dapat melakukan performa peran yang sesuai.
Intervensi dan Rasional
•         Ajarkan klien tentang berbagai ketrampilan untuk menangani konflik, pengambilan keputusan, dan penyelesaian masalah. Ketika klien mulai menggunakan keterampilan praktis yang mengurangi konfik interpersonal dan ansietas, maka distress pribadi menjadi berkurang.
•         Ajarkan klien tentang alternative perilaku efektif yang digunakan untuk mengekspresikan emosi yang kuat. Berbagai perilaku yang membantu klien mengekspresikan emosi dengan cara yang jujur dan sesuai dapat memfasilitasi adaptasi terhadap keterbatasan atau penyesuaian yang dialami klien.
•         Bantu klien menggunakan perilaku yang baru dipelajari untuk mengatasi gejala atau ketidakmampuan fisik yang mengganggu fungsi perannya. Sangat penting agar klien menggunakan perilaku yang baru untuk mengatasi konflik dari pada mengadopsi gejala untuk meredakan stress.
•         Bantu klien mengidentifikasikan kekuatan pribadi dan cara – cara untuk menerima atau melanjutkan fungsi peran yang sesuai. Penting bagi klien untuk mulai mengevaluasi kekuatan yang ada dan rencana untuk menggunakan informasi yang baru untuk melaksanakanfungsi perannya.
TERAPI
Sebagian besar klien yang memiliki faktor – faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis berada dalam kondisi medikal – bedah karena mereka memeriksakan kesehatan yang berhubungan dengan kondisi fisiologis mereka.Ketika seorang klien melaksanakan anjuran untuk terus mengikuti terapi, fokusnya ada pada bagaimana faktor – faktor psikologis seperti ansietas dan depresi mempengaruhi berbagai terapi atau hasilnya.
Terapi Individual
•         Pastikan klien mendapat supervise dan intervensi medis yang tepat untuk setiap kondisi yang di diagnosis.
•         Kaji emosi klien tentang situasi kehidupannya.
•         Ajarkan klien tentang stress dan bagaimana mengenali stressor kehidupan yang khas. Fokuskan pada pembelajaran dan praktik keterampilan penatalaksanaan stres.
•         Minta klien mengidentifikasikan perasaan pada tubuhnya yang mengindikasikan stress.
•         Minta klien mengenali hubungan antara gejala fisik dan masalah emosi.
•         Minta klien menghilangkan distorsi kognitif dan hal – hal negatif yang kronis.
•         Minta klien mengidentifikasikan dan mengevaluasi strategi koping yang digunakan saat ini.
•         Rujuk klien ke kelompok terapi atau kelompok pendukung supaya  klien memiliki sebuah mekanisme untuk membeberkan perasaannya, mengatasi ansietas, dan menguatkan keterampilan koping yang efektif.
•         Dorong anggota keluarga untuk mendiskusikan perasaan mereka, khususnya perasaan marah dan tidak berdaya, yang berhubungan dengan banyaknya kebutuhan fisik dan psikologis klien.
PENGOBATAN
Sebagian besar pengobatan yang dijalani klien ditujukan untuk meringankan gejala – gejala fisik dan meredakan rasa nyeri yang berhubungan dengan kondisi medis tertentu.
•         Obat – obatan antisietas memfasilitasi fungsi keseharian klien, dan meningkatkan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam terapi.
•         Obat – obatan antidepresan boleh diberikan kepada klien yang menunjukan gejala depresi.

ASUHAN KELUARGA
•         Bicara dengan anggota keluarga tentang pemahaman mereka terhadap situasi klien dan bagaimana ansietas mempengaruhi masalah fisiologis klien.
•         Dorong keluarga untuk mendukung penatalaksaan medis yang sedang dijalani klien.
•         Minta keluarga untuk mengidentifikasikan peran yang dimainkan oleh masing – masing anggota keluarga, fokuskan pada harapan dan tanggung jawab peran klien yang sesuai.
•         Identifikasikan sumber – sumber konflik dalam keluarga, bagaimana anggota keluarga mengatasi konflik, dan bagaimana konflik ikut menyebabkan perubahan performa peran klien.
•         Bersama keluarga berupaya menyelesaikan masalah dan isu – isu tekanan lain yang sudah berlangsung lama.
•         Diskusikan bagaimana keluarga dapat mendukung keputusan klien untuk mengubah gaya hidupnya.
•         Ajarkan keterampilan komunikasi, penyelesaian masalah, asertif, dan penatalaksanaan stress sebagai metode penanganan masalah.
•         Bersama anggota keluarga mengeksplorasi bagaimana perubahan dalam diri klien mempengaruhi kehidupan dan rutinitas keseharian mereka.
•         Evaluasi dukungan yang dibutuhkan keluarga untuk menghentikan penguatan akibat sekunder dari penyakit atau perilaku lain yang bersangkutan yang di peroleh klien.
•         Bantu keluarga mengidentifikasikan dan memilih mekanisme koping yang sehat untuk mengatasi stress dalam keluarga.
3.      Perencanaan/ intervensi
Rencana tindakan keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus.Perencanaan keperawatan meliputi perumusan tujuan, tindakan, dan penilaian rangkaian asuhan keperawatan pada klien berdasarkan analisis pengkajian agar masalah keperawatan klien dapat diatasi.
Rencana tindakan disesuaikan dengan standar asuhan keperawatan jiwa Indonesia atau standar keperawatan amerika yang membagi karakteristik tindakan berupa: tindakan konseling / psikoterapeutik, pendidikan kesehatan, perawatan mandiri dan aktifitas hidup sehari-hari , terapi modalitas keperawatan ,perawatan berkelanjutan , tindakan kolaborasi.
4.      Implementasi
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan( effendi, 1995). Jenis tindakan pada implementasi ini terdiri dari tindaka mandiri( independent), saling ketergantungan/kolaborasi( interdependent), dan tindakan rujukan/ ketergantungan( dependent).
Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan , perawat erlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih dibutuhkan klien dan sesuai dengan kondisinya saat ini. Perawat juga menilai diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan Interpersonal, intelektual teknikal sesuai tindakan yang akan dilaksanakan. Perlu penilaian kembali apakah aman bagi klien.Setelah semua tidak ada hambatan, maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan. Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan, perawat melakukan kontrak dengan klien dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan serta peran serta klien yang di harapkan.
5.      Evaluasi     
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
Klien dan keluarga perlu dilibatkan dalam evaluasi agar dapat melihat perubahan dan berupaya mempertahankan dan memelihara.Pada evaluasi sangat diiperlukan reinforcement untuk menguatkan perubahan yang positif.
6.      Pendokumentasian
Dokumentasi keperawatan adalah suatu catan yang memuat seluruh informasi yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosis keperawatan, menyusun rencana keperawatan, melaksanakan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang disusun secara sistematis valid dan dapat dipertanggung-jawabkan secara moral dan hokum

DAFTAR PUSTAKA
Copel, Linda Carman. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri: Pedoman Klinis Perawat, Edisi 2. Jakarta : EGC, 2007.
Intansari Nurjanah, S.Kep. Pedoman Penanganan Gangguan Jiwa: Manajemen, Proses Keperawatan dan Hubungan Terapeutik Perawat – Klien, Penerbit MocoMedia, 2004.
Diposkan oleh Danie Chan di 16:32
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: Kumpulan Askep