Saturday, 16 March 2013

Masyarakat Modern

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dan menyusun makalah ini tepat pada waktunya, dengan tema Kehidupan Masyarakat Modern.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan, akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

         Inderalaya, 1 November   2011


Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sejak manusia dilahirkan, manusia sudah dikatakan sebagai makhluk sosial. Yang memiliki sifat ketergantungan akan manusia lainnya untuk tumbuh dan berkembang. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa manusia lainnya. Bayi misalnya, harus diajarkan makan, minum, mandi, bermain, berjalan dan lain sebagainya. Lagi pula, manusia tidak diciptakan oleh tuhan sebagai makhluk yang sempurna. Akan tetapi, untuk menutupi kekurangan-kekurang tersebut, maka manusi dikaruniai otak untuk berpikir.
Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki naluri untuk hidup dengan orang lain. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain disebut gregariousness sehingga manusia juga disebut social animal yang artinya hewan sosial.
Di dalam hubungan manusia satu dengan yang lain, yang paling penting adalah reaksi yang timbul sebagai akibat dari hubungan-hubungan yang terjadi tadi. Reaksi tersebutlah yang menyebabkan tindakan seseorang menjadi lebih luas. Maka mempunyai hasrat untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya yaitu masyarakat. Dan juga memiliki hasrat untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Untuk dapat mengatsi dan menyeimbangkan dengan keduanya, maka manusia menggunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya. Di dalam menghadapi alam sekelilingnya seperti udara yang dingin, alam yang kejam dan lain sebagainya, manusia menciptakan rumah, pakaian dan lain-lain. Manusia juga membutuhkan makanan agar terjaga kesehatan tubuhnya. Maka dia dapat mengambil atau memenuhinya dengan mengambil makanan di alam sekitarnya, dengan menggunakan akal pikirannya. Misalnya di laut, maka manusia menjadi nelayan untuk menangkap ikan. Jika di hutan, maka manusia berburu untuk mencari makanannya.
Semuanya itu menimbulkan kelompok-kelompok sosial di dalam kehidupan manusia. Kelompok sosial ini merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi satu sama lain. Kelompok sosial ini diciptakan oleh anggota masyarakat itu sendiri. Kelompok juga dapat mempengaruhi perilaku para anggotanya.
Selain karena memiliki kesadaran sebagi anggota kelompok. Di dalam kelompok-kelompok tersebut harus mempunyai hubungan timbal balik antara anggota satu dengan anggota lainnya, ada suatu faktor yang menyebabkan hhubungan antar mereka bertambah erat, misalnya karena memiliki pola pikir yang sama mengenai suatu hal, atau karena memiliki ideologi politik yang sama. Dan juga di dalam kelompok sosial mempunyai suatu proses dan pola perilaku yang sama.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah tipe-tipe kelompok sosial, mengidentifikasi kelompok sosiao tak beraturan dan perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan.
C.     Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apa saja tipe-tipe yang ada dalam kelompok sosial, mengidentifikasi kelompok sosial tak beraturan dan perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan
BAB II
PEMBAHASAN

Menurut Mayor Polak, kelompok sosial adalah sejumlah orang yang saling berinteraksi dalam sebuah struktur. Sedangkan menurut Robert K. Merton, kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, yang bersifat mempengaruhi dan saling tolong menolong. Jadi, Kelompok sosial diartikan sebagai kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki.
Rasa kebersamaan dan rasa memiliki ini timbul dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya adalah adanya faktor pengikat yang dimiliki bersama, misalnya kepentingan dan tujuan yang sama.
Syarat-syarat kelompok sosial menurut Soerjono Soekanto adalah :
1.      Adanya kesadaran sebagai anggota kelompok yang bersangkutan
2.      Adanya hubungan timbal balik antara anggota satu dengan anggota lainnya dalam kelompok tersebut
3.      Adanya faktor pengikat yang dimiliki bersama, misalnya sama-sama memiliki ideologi politik yang sama
4.      Memiliki kaidah, struktur, dan pola perilaku yang sama
5.      Bersistem dan berproses
Sedangkan menurut Robert K. Merton, syarat-syarat kelompok sosial adalah :
1.      Memiliki pola interaksi
2.      Pihak yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagi anggota kelompok
3.      Pihak yang berinteaksi didefinisikan orang lain sebagai anggota kelompok.
Berdasarkan syarat-syarat kelompok sosial di atas maka dapat disimpulakan, ciri-ciri adanya kelompok sosial dalam masyarakat adalah memiliki faktor pengikat, adanya interaksi dan komunikasi di antara anggotanya, adanya norma-norma yang mengatur hubungan dia antara anggotanya serta memiliki struktur sosial.
Dalam membicarakan kelompok-kelompok sosial, haruslah dihindari prasangkabahwa kelompok sosial merupakan lawan dari individu dan merupakan ancaman kesejahteraan individu. Dan juga harus dihindari prasangka bahwa kelompok sosial semata-mata ditimbulkan oleh naluri-naluri manusia untuk selalu hidup dengan sesama. Mengapa? Karena kelompok sosial juga merupakan bentuk kehidupan yang nyata.

A.    Klasifikasi Tipe-tipe Kelompok Sosial
Tipe-tipe kelompok sosial di klasifikasikan dari berbagi sudut, yaitu besar kecilnya jumlah anggota, derajat interaksi sosial, kepentingan dan wilayah, berlangsungnya suatu kepentingan, derajat organisasi, kesadaran akan jenis, hubbungan sosial, dan tujuan yang sama.
1.      Dari Sudut Pandang individu
a.      In-Group
Sikap-sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok. Jadi, bisa dikatakan in-group adalah kelompok sosial dimana individu mengindetifikasikan dirinya sendiri. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa setiap kelompok sosial, merupakan in-group bagi anggotanya.
b.      Out-Group
Sikap out-group  selalu ditandai dengan suatu kelainan yang berwujud antagonisme atau antipati. Dan bisa dikatakan bahwa, out-group adalah kelompok sosial yang oleh individunya diartikan lawan dari in-group.
Perasaan in-group dan out-group didasari dengan suatu sikap yang dinamakan etnosentris, yaitu adanya anggapan bahwa kebiasaan dalam kelompoknya merupakan yang terbaik dibanding dengan kelompok lainnya.

2.      Dari Kualitas Hubungan Antar Anggota
a.      Primary group (kelompok primer)
Merupakan kelompok sosial yang paling sederhana, di mana anggotanya saling mengenal serta ada kerja sama yang erat. Contohnya keluarga, kelopok bermain, dan lain sebagainya.
b.      Secondary group (kelompok sekunder)
Merupakan kelompok yang terdiri dari banyak orang, yang sifat hubungannya tidak berdasarkan pengenalan secara pribadi dan juga tidak langgeng. Contohnya hubungan kontrak jual beli tanah.
                                   
3.      Berdasarkan Erat Longgarnya Ikatan Antar Anggota
a.      Gemeinschaft (Pagayuban)
Merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Bentuk pagayuban akan dijumpai di dalam keluarga, rukun tetangga da lain sebagainya.
Ada 3 ciri pagayuban yang dikemukakan oleh Tonnies, yaitu (1) intimate, yaitu hubungan menyeluruh yang mesra. (2) private, yaitu hubungan yang bersifat pribadi, khusus untuk beberapa orang saja. (3) exclusive, yaitu hubungan tersebut hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untuk orang-orang lain di luar “kita”.


b.      gesellschaft (patembayan)
Ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka, serta strukturnya bersifat mekanis dan sebagaimana dapat diumpakan dengan sebuah mesin. Misalnya, ikatan antara pedagang, organisasi dalam suatu pabrik, dan lain-lain.

4.      Berdasarkan Pencapaian Tujuan
a.      Formal group
Merupakan keberadaan tata cara untuk memobilisasikan dan mengkoordinasikan usaha-usaha, yang mencapai tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat spesialisasi. Apabila hubungan-hubungan antar anggota formal group (disebut organisasi) dan semua kegiatan didasarkan pada aturan-aturan yang sebelumnya sudah ditentukan, tidak semua masalah dapat ditanggulangi. Proses interaksi sosial dan kegiatan-kegiatan dalam organisasi tidak mungkin semua dapat ditegakkan.
b.      Informal group
Tidak mempunyai struktur dan oganisasi tertentu atau pasti. Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali dan itu menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman yang sama. Contohnya klik (clique) sutu kelompok kecil tanpa struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Biasanya bersifat “antara kita” saja.

5.      Berdasarkan Pendapat Ropert K. Merton
a.      Membership Group
Kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut.
b.      Reference Group
Merupakan kelompok ssosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Ada dua tipe umum reference group menurut Robert K. Merton, yakni tipe normatif dan tipe perbandingan. Tipe normatif adalah yang menentukan dasar-dasar bagi kepribadian seseorang. Sedangkan tipe perbandingan adalah pegangan bagi individu di dalam menilai kepribadiannya.
Apabila teori reference group dan membership group    dihubungkan sebagimana diterangkan di atas, akan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ini :
  Bukan anggota yang memenuhi syarat (disebut pula sebagai calon anggota) mempunyai beberapa kecenderungan untuk mengindetifikasikan dirinya dengan kelompok, dimana kemudian dia menjadi anggota.
  Bukan anggota yang bersikap masa bodoh tidak menganggap kelompok sebagai reference group-nya.
  Bukan anggota yang tetap tidak ingin menjadi anggota, tetap menganggap suatu kelompok sebagai reference group-nya.
  perbedaan antara bekas anggota dengan mereka yang bukan anggota merupakan hal yang penting.

6.      Kelompok Okupasional dan Volonter
Kelompok okupasional merupakan kelompok yang muncul karena semakin memudarnya fungsi kekerabatan, dimana kelompok ini timbul karena anggotanya memiliki pekerjaan yang sama. Contohnya, Ikatan Dokter Gigi Indonesia.
Sedangkan yang namanya kelompok volonter adalah kelompom yang memiliki kepentingan yang sama, namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat.melalui kelompok ini diharapkan akan dapat memenuhi kepentingan anggotanya secara individual tanpa mengganggu kepentingan masyarakat secara umum.

B.     Kelompok Sosial yang Tidak Teratur
Secara garis besar, kelompok sosial yang tidak teratur ini ada 2 tipe. Yakni, keremunan dan publik.
1.      Kerumunan
Apabila individu-individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat yang sama dan pada waktu yang  bersamaan pula, maka disebut dengan kerumunan. Ada banyak bukti bahwa kerumuna dianggap sebagai gejala sosial yang kurang disukai dalam masyarakat yang sudah teratur.
 Akan tetapi, kerumunan juga dapat diarahkan pada tujuan-tujuan baikseperti kerumunan orang-orang yang menghadiri khotbah keagamaan.
a)      Bentuk kerumunan adalah formal dan ekspresif (direncanakan).
b)      Sifat kerumunan (sementara), yaitu tidak menyenangkan, keadaan panik, kerumunan penonton.
c)      Berlawanan dengan norma hukum (emosional dan immoral).

2.      Publik
Publik lebih merupakan kelompok, yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi yang terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi seperti misalnya pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, dan lain sebagainya.

C.    Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan.
Masyarakat desa merupakan kelompok primer, memiliki struktur sosial yang tradisional sehingga perkembangan dan perubahannya relatif lambat / statis. Ciri-ciri masyarakat pedesaan :
a.       Warga memiliki hubungan yang sangat erat.
b.      System kehidupan biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan
c.       Umumnya hidup dari pertanian.
d.      Golongan orang tua memegang peranan penting.
e.       Dari sudut pemerintahan hubungan antara penguasa dengan rakyat bersifat formal.
f.       Perhatian masyarakat lebih pada keperluan utama kehidupan.
g.      Kehidupan keagamaan lebih kental.
h.      Banyak berurbanisasi ke kota karena ada faktor yang menarik dari kota.
Masyarakat kota memiliki tatanan yang heterogen sehingga kelompoknya lebih dinamis. Masyarakat kota mempunyai daya tarik bagi masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi. Ciri-ciri masyarakat kota :
a.       Jumlah penduduknya tidak tentu
b.    Bersifat individualis
c.       Pekerjaan lebih bervariasi, lebih tegas batasannya dan lebih sulit mencari pekerjaan.
d.      Perubahan sosial terjadi secara cepat, menimbulkan konflik antara golongan muda dengan golongan orang tua.
e.       Interaksi lebih disebabkan faktoran kepentingan daripada pribadi.
f.       Perhatian lebih pada penggunaan kebutuhan hidup yang dikaitkan dengan prestise.
g.      Kehidupan agama lebih longgar
h.      Banyak migrant yang bersal dari daerah dan berakibat negative dikota, yaitu pengangguran, naiknya kriminialitas, persoalan rumah dan lain-lain.



















BAB III
PENUTUP
               
 Berdasarkan uraian pada pembahasan maka kesimpulan yang dapat dipaparkan dalam makalah ini adalah :
1.      Dalam kehidupan bermasyarakat dan pada dasarnya manusia memilki naluri untuk hidup bergabung dengan orang lain, maka terbentuklah berbagai macam kelompok sosial.
2.      Ada 6 tipe pengklasifikasian kelompok sosial, yakni Dari Sudut Pandang individu, Dari Kualitas Hubungan Antar Anggota, Berdasarkan Erat Longgarnya Ikatan Antar Anggota, Berdasarkan Pencapaian Tujuan, Berdasarkan Pendapat Ropert K. Merton , dan Kelompok Okupasional dan Volonter
3.      Terdapat kelompok sisoal yang tidak teratur, yakni Kerumunan dan Publik.
4.      Terdapat dua jenis dalam masyarakat, yakni pertama masyarakat pedesaan yang mempunyai sifat kekeluargaan dan yang kedua adalah masyarkat kota yang cenderung sendiri-sendiri.







DAFTAR PUSTAKA

 Soekanto, soerjono, Sosiologi Suatu pengantar, Rajawali Pers, Jakarta, 2009
 Ahmadi, Abu, Ilmu Sosial Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 1990
 Aziz, Arnicum dan Hartono, Ilmi Sosial Dasar, Bumi Aksara, Jakarta, 1990
 www.google.com
 http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_sosial . http://mklh2kelompoksosial.blogspot.com/