Sunday, 10 March 2013

ASKEP Pneumonia



A .    PENGERTIAN
Pneumonia adalah : proses infeksi akut yang  mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Berdasarkan letak anatomis dibagi menjadi 3 yaitu pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia) dan pneumonia interstitialis (bronkiolitis).
Bronchopneumonia adalah proses infeksi akut yang menyerang bronkus paru.
B .    ETIOLOGI
1.    Bakteri (H influenza)
2.    Virus
3.    Mycoplasma pneumoniae
4.    Jamur
5.    Aspirasi (makanan, keroses, amnion, dsb).
6.    Pneumonia hipostatik
7.    Sindrom Loeffler

C. TANDA DAN GEJALA
Gejala    Bakterial/ Tipikal    Non bacterial/
Atipikal    Pola campuran
    Usia
    Awitan
    Gejala dominan

    Batuk
    Sputum
    Nyeri dada
    Konsolidasi
    Leukositosis
Foto dada
    Penyebab    Lebih tua
Cepat
Konstitusional dan respirasi
Produktif
Purulen/berdarah
Sering
Sering
Segmen/lobar

Bakteri    Muda
Lebih lambat
Konstitusional

Tidak
Negatif/mukoid
Jarang
Jarang
Tidak ada Interstitial, difus
Mikoplasma/virus/ jamur    Lebih tua
Cepat
Konstitusional

Tidak menonjol
Dapat purulen
Sering
Jarang
Ringan, Var: Patchy infiltrate.
Bakteri-presentasi atipikal, tuberculosis, legionella, klamida
D. FAKTOR RESIKO

1.    Laki-laki
2.    Merokok 
3.    Gizi kurang
4.    Polusi udara
5.    Kepadatan tempat tinggal
6.    Defisiensi vitamin

Faktor resiko meningkatnya kematian karena pneumonia

1.    Tingkat sosio ekonomi rendah
2.    Kurang gizi
3.    Riwayat merokok berat
4.    Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah
5.    Kepadatan tempat tinggal
6.    Menderita penyakit kronis
7.    Aspek kepercayaan setempat dalam praktek pencarian pengobatan yang salah

E. PATOFISIOLOGI
Terjadinya pneumonia tergantung kepada virulensi MO, tingkat kemudahan dan luasnya daerah paru yang terkena serta penurunan daya tahan tubuh. Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan imunitas yang jelas. Factor predisposisi antara lain berupa kebiasaan merokok, pasca infeksi virus, penyakit jantung kronik, diabetes mellitus, keadaan imunodefisiensi, kelainan atau kelemahan struktur organ dada dan penurunan kesadaran. Juga adanya tindakan invasife: infuse, intubasi, trakeostomi, pemasangan ventilator. Lingkungan tempat tinggal, misalnya dip anti jompo, penggunaan antibiotic, dan obat suntik IV serta keadaan alkoholik meningkatkan kemungkinan terinfeksi kuman gram negative.
Pneumonia diharapkan akan sembuh setelah terapi 2-3 minggu. Bila lebih lama perlu dicurigai adanya infeksi kronik oleh bakteri anaerob atau non bakteri seperti oleh jamur, mikrobakterium atau parasit.   
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Pemeriksaan radiologist    :    air bronchogram : streptococcus pneumoniae
2.    Pemeriksaan Laboratorium    :    Leukosit
3.    Pemeriksaan Bakteriologis    :    sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis, bronskoskopi, biopsy
4.    Pemeriksaan Khusus    :    Titer antibody terhadap virus
G. KOMPLIKASI
    Empiema
    Otitis media akut
    Atelektasis
    Empisema
    Meningitis
H. PENATAKSANAAN
1.    Antibiotik
2.    Terapi supportif umum

a.    Terapi oksigen
b.    Humidifikasi dengan nebulizer
c.    Fisioterapi dada
d.    Pengaturan cairan
e.    Pemberian kortokosteroid pada fase sepsis berat
f.    Obat inotropik
g.    Ventilasi mekanis
h.    Drainase empiema
i.    Bila terdapat gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori cukup

-    Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
1.    Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi bronkus
2.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan b.d faktor biologis.
3.    Kekurangan volume cairan b. D kegaga;an mekanisme pengaturan
4.    Defisit perawatan diri : mandi, makan, toileting berhubungan dengan kelemahan.





1.    BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF BERHUBUNGAN DENGAN OBSTRUKSI JALAN NAFAS: SEKRIT BERLEBIHAN

NOC dan indikator    NIC dan aktifitas    Rasional
Setelah dilakukan perawatan 3x24 jam klien dapat:
    mempertahankan kepatenan jalan nafas.
    Mempertahankan ventilasi berkurang
Dg Indikator:
    Tidak ada spasme
    Tidak ada cemas
    Tidak ada suara tambahan
    RR normal
    Mampu bernafas dalam
    Ekspansi dan simetris
    Tidakada retraksi dada
    Mudah bernafas
    Tidak dyspnea    NIC: airway manajement
Aktifitas:
1.    Buka jalan nafas
2.    Atur posisi yang memungkinkan ventilasi maximum
3.    dengarkan suara nafa
4.    Monitor dan oksigenasi
5.    pantau kelembaban oksigenasi pasien
6.    Kaji status pernafasan
7.    minta pasien tidur/duduk dengan kepala fleksi, otot bahu rileks dan lutut menekuk
8.    Anjurkan paien nafas dalam dan batuk efektif
9.    Berikan terapi sesuai program   


Meningkatkan efektifitas jalan nafas dengan tidak adanya obstruksi jalannafas.

2.    DX. KEPERAWATAN: KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH B.D FAKTOR BIOLOGIS (SESAK NAFAS)
NOC dan indikator    NIC dan aktifitas    Rasional
NOC: Status nutrisi, setelah diberikan penjelasan dan perawatan selama 4x 24 jam kebutuhan nutrisi ps terpenuhi dg:
Indikator:
    Pemasukan nutrisi yang adekuat
    Pasien mampu menghabiskan diet yang dihidangkan
    Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
    Nilai laboratorim, protein total 8-8 gr%, Albumin 3.5-5.4 gr%, Globulin 1.8-3.6 gr%, HB tidak kurang dari 10 gr %
    Membran mukosa dan konjungtiva tidak pucat    NIC: Eating disorder manajemen
Aktifitas:
1.    Tentukan kebutuhan kalori harian
2.    Ajarkan klien dan keluarga tentang pentingnya nutrient
3.    Monitoring TTV dan nilai  Laboratorium
4.    Monitor intake dan output
5.    Pertahankan kepatenan pemberian nutrisi parenteral
6.    Pertimbangkan nutrisi enteral
7.    Pantau adanya Komplikasi GI
NIC: terapi gizi
Aktifitas:
1.    Monitor masukan makanan/ minuman dan hitung kalori harian secara tepat
2.    Kaloborasi ahli gizi
3.    Pastikan dapat diet TKTP
4.    Berikan perawatan mulut
5.    Pantau hasil labioratoriun protein, albumin, globulin, HB
6.    Jauhkan benda-benda yang tidak enak untuk dipandang seperti urinal, kotak drainase, bebat dan pispot
7.    Sajikan makanan hangat dengan variasi yang menarik
   
Mengetahui kebutuhan kalori harian. Memudahkan dalam monitoring status nutrisi.









Nutrisi enteral meningkatkan fungsi sistem pencernakan.



1.    Penanda malnutrisi

2.    Penentuan jumlah kalori dan bahan makanan yang memenuhi standar gizi
3.    Mencegah penurunan nafsu makan

4.    Penanda kekurangan nutrisi

5.    Dapat mengurangi nafsu makan
6.    Menambah selera makan psien
3.    KEKURANGAN VOLUME CAIRAN BERHUBUNGAN DENGAN KEGAGALAN MEKANISME REGULASI/PENGATURAN

NOC dan indikator    NIC dan aktifitas    Rasional
NOC: Hidrasi, keseimbangan cairan adekuat, selama dilakukan tindakan keperawatan 5x24 jam keseimbangan cairan pasien adekuat
Indikator:
    Urine output 30ml/jam
    TTV dalam batas normal
    Turgor kulit baik, membran mukosa lembab, urine jernih    Manajemen cairan
o    Hitung kebutuhan cairan harian klien
o    Pertahankan intake output tercatat secara adekuat
o    Monitor status hidrasi
o    Monitor nilai laboratorium yang sesuai
o    Monitor TTV
o    Berikan cairan secara tetap
o    Tingkatkan masukan peroral
o    Libatkan keluargadalam membantu peningkatan masukan cairan
Monitoring cairan
1.    Pantau keadaan urine
2.    Monitor nilai lab urine
3.    Monitor membran mukosa, turgor, dan tanda haus
4.    Monitor cairan per IV line.
5.    Pertahankan pemberian terapi cairan peri infus.   
Memantau kondisi klien terhadap perubahan status hidrasi

4.    DIAGNOSA KEPERAWATAN: KURANG PERAWATAN DIRI MAKAN, MANDI,  BERPAKAIAN DAN TOILETING BERHUBUNGAN DENGAN KELEMAHAN
NOC dan indikator    NIC dan aktifitas    Rasional
NOC: Perawatan diri : (mandi, berpakaian), setelah diberi motivasi perawatan selama 2x24  jam, ps mampu melakukan mandi dan berpakaian sendiri dg:
Indikator:
    Tubuh bebas dari bau dan menjaga keutuhan kulit
    Menjelaskan cara mandi dan berpakaian secara aman    NIC: Membantu perawatan diri pasien
Aktifitas:
1.    Tempatkan alat-alat mandi disamping TT ps
2.    Libatkan keluarga dan ps
3.    Berikan bantuan selama ps masih mampu mengerjakan sendiri

NIC: ADL berpakaian
Aktifitas:
1.    Informasikan pd ps dlm memilih pakaian selama perawatan
2.    Sediakan pakaian di tempat yg mudah dijangkau
3.    Bantu berpakaian yg sesuai
4.    Jaga privcy ps
5.    Berikan pakaian pribadi yg digemari dan sesuai   




1.    Mempermudah jangkauan
2.    Melatih kemandirian
3.    Meningkatkan kepercayaan





1.    Memudahkan intervensi


2.    Melatih kemandirian

3.    Menghindari nyeri bertambah
4.    Memberikan kenyamanan
5.    Memberikan kepercayaan diri ps



LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN  BRONCHOPNEUMONIA

Tugas Mandiri
Stase Keperawatan Medikal Bedah Tahap Profesi
Program Studi Ilmu Keperawatan











Disusun Oleh:
Effata Soetriatmo
03/172144/EIK/00333



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UGM
YOGYAKARTA
2005

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 3, EGC, Jakarta
Haryani dan Siswandi, 2004, Nursing Diagnosis: A Guide To Planning Care, available on: www.Us.Elsevierhealth.com

Jong, W, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC Jakarta
McCloskey, 1996, Nursing Interventions Classification (NIC), Mosby, USA
Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia USA