Saturday, 16 March 2013

THYPOID

THYPOID

I.    DEFINISI
Thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

II.    ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah salmonella typhosa, basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar , tidak berspora.Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen yaitu  antigen O, antigen H dan antigen Vi. Dalam serum pasien terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.

III.    MANIFESTASI KLINIK
Masa tunas : 10 – 20 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, nafsu makan kurang, menyusul gambaran klinik yang biasa ditemukan ialah :

a.    Demam
Biasanya febris bersifat remiten, menurun pada pagi hari dan meningkat pada malam/sore hari.
b.    Gangguan pada saluran pencernaan
-    Nafas berbau 
-    Lidah kotor (coated tongue)
-    Biasanya ditemukan meteorismus
-    Hepatomegali, splenomegali
-    Konstipasi / diare / normal
c.    Gangguan kesadaran
Penurunan kesadaran biasanya terjadi pada keadaan yang lebih berat (apatis, somnolen) jarang sampai sopor atau koma
Selain tanda-tanda tersebut biasanya ditemukan bercak-bercak kemerahan pada punggung yang dapat ditemukan  pada minggu pertama kadang ditemukan bradikardi dan epistaksis pada anak.

IV.    PATOFISIOLOGI

        Salmonella typhosa


        Saluran pencernaan


        Diserap dalam usus halus


        Masuk aliran darah
        Sistemik


         Kelenjar limfoid                  Hati                        Limfa              Endotoksin
             Usus halus           
                                              
                                           Hematomegali           Splenomegali       Demam
                Tukak



          Perforasi usus


V.    POTENSIAL KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin muncul pada pasien thypoid :
a.    Perdarahan usus : bisa sampai melena
b.    Perforasi usus
c.    Peritonitis
d.    Meningitis, ensefalopati
e.    Kolesistitis

VI.    PEMERIKSAAN

a.    Pemeriksaan darah tepi : leukopenia, limfositosis, anemia, trombositopenia
                        aneosinofilia.
b.    Darah untuk kultur ( biakan untuk empedu ) dan widal.
•    Biakan empedu dapat ditemukan pada minggu pertama sakit
•    Pemeriksaan widal : didapatkan titer terhadap antigen O adalah 1/200 atau lebih, sedangkan titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk menegakkan diagnosis.

VII.    PENATALAKSANAAN
A.    Medis
•    Program bedrest sampai suhu normal kembali
•    Diet, makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas.
•    Obat pilihan ialah kloramfenikol
•    Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakit.

B.    Keperawatan
1.    Pengkajian data fokus
•    Riwayat keperawatan
•    Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama pada malam hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan, epistaksis, penurunan kesadaran

2.    PATHWAY
        Salmonella thyposa

        Diserap usus halus

        Aliran darah sistemik

      Kelenjar limfoid usus            Hati                      Limfa                 Endotoksin 

        Tukak                           Hepatomegali        Splenomegali       Febris        Evaporasi

     Pervorasi usus                                                                  

                                                        Mendesak lambung

            M u a l

            Nafsu makan menurun







3.    Diagnosa keperawatan.
•    Hipertermi b.d proses infeksi
•    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake yang kurang
•    Resiko kekurangan volume cairan tubuh
•    P.K Peritoritis

4.    Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan    Tujuan    Intervensi

1) Hipertermi b.d proses                 infeksi
 DS : Kelg/pasien melaporkan        badan terasa panas & tidak nyaman
 DO :
-   Kulit ps.teraba   hangat/panas
-   Wajah tampak memerah
-   Suhu badan > 37o C
-   Takikardi
-   RR meningkat

2). Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake yang kurang.
DS : Ps melaporkan tidak       nafsu makan, mual.
DO :
-  Pasien tidak menghabiskan  porsi makan yg disediakan
-  Ps.kehilangan BB sampai 20% dibawah BB ideal
-  Tonus otot menurun





3). Resiko kekurangan vol.cairan tubuh
     Faktor Resiko :
    -  Peningkatan suhu tubuh
       ( > 37 o C )




4). PK Peritonitis




   
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama ….. x 24 jam suhu tubuh dalam batas normal
KH :
-   Suhu tubuh dbn ( 35 – 37o C )
-   RR dbn ( sesuai umur )
-   Nadi dbn ( sesuai umur )
-   Wajah tidak memerah





Setelah dilakukan tindakan perawatan selama … x 24 jam status nutrisi optimal
KH :
- Ps/klg melaporkan adanya nafsu makan.
-   Ps menghabiskan porsi makan yg disediakan
-   BB stabil/naik







Setelah dilakukan tindakan perawatan selama … x 24 jam kekurangan volume cairan tubuh tidak terjadi
KH :
- Tanda-tanda dehidrasi tidak      ditemukan.
-  Suhu tubuh dbn (35,5-370 C )

 Setelah dilakukan tindakan perawatan selama … x 24 jam peritonitis teratasi
KH :
- Perawat mampu mencegah komplikasi peritonitis lebih lanjut    
- Kaji pengetahuan pasien & keluarga ttg hipertermia
-   Observasi vital sign
-   Beri minum yang cukup
-   Beri kompres hangat
-   Anjurkan utk memakai pakaian yg tipis
-   Anjurkan utk bed rest sampai suhu stabil dbn ( 35 – 37o C )
-   Kolaborasi pemberian antipireksia


-   Kaji status nutrisi anak
-   Berikan makanan halus/lunak
-   Berikan makanan yg disertai dg suplemen nutrisi
-   Anjurkan kpd ortu utk memberi makanan sedikit tapi sering.
-   Monitor BB tiap hari
-   Pertahankan kebersihan     mulut
-   Jelaskan ttg pentingnya intake nutrisi yg adekuat
-   Kolaborasi pemberian makanan parenteral bila per oral tdk mencukupi

-   Kaji & observasi suhu,RR,nadi pasien.
-   Anjurkan banyak minum
-   Observasi adanya tanda-tanda dehidrasi.
-   Monitor balance cairan tubuh
-   Kolaborasi pemberian cairan intravena

-  Kaji perjalanan infeksi
-  Lakukan tindakan/prosedur dg teknik septik/aseptik
-  Monitor TTV
-  Kolaborasi pemberian  terapi medis ( antibiotik ).