Saturday, 9 March 2013

Makalah Konsep Cidera Kepala

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR

A.    PENGERTIAN

Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi – descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan factor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

B.    PATOFISIOLOGI
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi, energi yang dihasilkan di dalam sel – sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma, kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan tubuh, sehingga bila kadar oksigen plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala – gejala permulaan disfungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolisme anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan oksidasi metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metababolik. Dalam keadaan normal Cerebral Blood Flow (CBF) adalah 50 – 60 ml / menit 100 gr. Jaringan otak yang merupakan 15 % dari cardiac output.
Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktifitas atypical myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udema paru.
Perubahan otonim pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P aritmia, fibrilasi atrium dan ventrikel serta takikardi.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler akan menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pengaruh persyarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar.

KLASIFIKASI CIDERA KEPALA
Cidera kepala primer
Akibat langsung pada mekanisme dinamik ( acceselarsi – descelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan.
Pada cidera primer dapat terjadi :
1). Geger kepala ringan
2). Memar otak
3). Laserasi.
Cedera kepala sekunder : timbul gejala seperti :
1). Hipotensi sistemik
2). Hiperkapnea
3). Hipokapnea
4). Udema otak
5). Komplikasi pernapasan
6). Infeksi komplikasi pada organ tubuh yang lain.

JENIS PERDARAHAN YANG SERING DITEMUI PADA CIDERA KEPALA :
Epidural hematoma
Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang – cabang arteri meningeal media yang terdapat diantara duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena sangat berbahaya . Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis.
Gejala – gejalanya :  
1). Penurunan tingkat kesadaran
2). Nyeri kepala
3). Muntah
4). Hemiparese
5). Dilatasi pupil ipsilateral
6). Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler )
7). Penurunan nadi
8). Peningkatan suhu
Subdural hematoma
Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut dapat terjadi dalam 48 jam – 2 hari, 2 minggu atau beberapa bulan.
Gejala – gejalanya :
1). Nyeri kepala
2). Bingung
3). Mengantuk
4). Menarik diri
5). Berfikir lambat
6). Kejang
7). Udem pupil.
Perdarahan intra serebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri, kapiler dan vena.
Gejala – gejalanya :
1). Nyeri kepala
2). Penurunan kesadaran
3). Komplikasi pernapasan
4). Hemiplegi kontra lateral
5). Dilatasi pupil
6). Perubahan tanda – tanda vital
Perdarahan Subarachnoid
Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat.
Gejala – gejalanya :
1). Nyeri kepala
2). Penurunan kesadaran
3). Hemiparese
4). Dilatasi pupil ipsilateral
5). Kaku kuduk.

   

HUBUNGAN CEDERA KEPALA TERHADAP MUNCULNYA MASALAH KEPERAWATAN

















ASUHAN KEPERAWATAN

1.    Pengkajian
a.    Pengumpulan data klien baik subyektif maupun obyektif pada gangguan sistem persyarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk, lokasi, jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya.
b.    Identitas  klien dan keluarga ( penanngungjawab ) : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat golongan darah, penghasilan, hubungan klien dengan penanggungjawab.
c.    Riwayat kesehatan
Tingkat kesadaran / GCS < 15, convulsi, muntah, takipnea, sakit kepala, wajah simetris atau tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi secret pada saluran pernapasan, adanya liquor dari hidung dan telinga serta kejang.
Riwayat penyakit dahulu barulah diketahui dengan baik yang berhubungan dengan sistem persyarafan maupun penyakit sistem – sistem lainnya, demikian pula riwayat penyakit keluarga yang mempunyai penyakit menular.
d.    PEMERIKSAAN FISIK
1)    Aktifitas / istirahat
S    : Lemah, lelah, kaku dan hilang keseimbangan
O    : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, guadriparese,goyah dalam berjalan ( ataksia ), cidera pada tulang dan kehilangan tonus otot.
2)    Sirkulasi
O    : Tekanan darah  normal atau berubah, nadi bradikardi, takhikardi dan aritmia.
3)    Integritas ego
S    : Perubahan tingkah laku / kepribadian
O    : Mudah tersinggung, bingung, depresi dan impulsive
4)    Eliminasi
O    : bab / bak inkontinensia / disfungsi.
5)    Makanan / cairan
S    : Mual, muntah, perubahan selera makan
O    : Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan (batuk, disfagia).
6)    Neuro sensori :
S    : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo, tinitus, kehilangan pendengaran, perubahan penglihatan, diplopia, gangguan pengecapan / pembauan.
O    : Perubahan kesadara, koma.
Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, atensi dan kinsentarsi) perubahan pupil (respon terhadap cahaya), kehilangan penginderaan, pengecapan dan pembauan serta pendengaran. Postur (dekortisasi, desebrasi), kejang. Sensitive terhadap sentuhan / gerakan.
7)    Nyeri / rasa nyaman
S    : Sakit kepala dengan intensitas dan lokai yang berbeda.
O    : Wajah menyeringa, merintih.
8)    Repirasi
O    : Perubahan pola napas ( apnea, hiperventilasi ), napas  berbunyi, stridor , ronchi dan wheezing.
9)    Keamanan
S    : Trauma / injuri kecelakaan
O    : Fraktur dislokasi, gangguan penglihatan, gangguan ROM, tonus otot hilang kekuatan paralysis, demam,perubahan regulasi temperatur tubuh.
10)    Intensitas sosial
O    : Afasia, distarsia

e.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1)    CT- Scan ( dengan tanpa kontras )
Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan, ventrikuler dan perubahan jaringan otak.
2)    MRI
Digunakan sama dengan CT – Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3)    Cerebral Angiography
Menunjukkan anomaly sirkulasi serebral seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema, perdarahan dan trauma.
4)    Serial EEG
Dapat melihat perkembangan gelombang patologis.
5)    X – Ray
Mendeteksi perubahan struktur tulang ( fraktur )  perubahan struktur garis ( perdarahan / edema ), fragmen tulang.
6)    BAER
Mengoreksi batas fungsi korteks dan otak kecil.
7)    PET
Mendeteksi perubahan aktifitas metabolisme otak.
8)    CFS
Lumbal punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.
9)    ABGs
Mendeteksi keradangan ventilasi atau          masalah             pernapasan
( oksigenisasi ) jika terjadi peningkatan tekanan intra cranial.
10)    Kadar elektrolit
Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai peningkatan tekanan intrakranial.
11)    Screen Toxicologi
Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran.

f.    PENATALAKSANAAN
Konservatif :
-    Bedres total
-    Pemberian obat – obatan
-    Observasi tanda – yanda vital ( GCS dan tingkat kesadaran).

    Beberapa diagnosa perawatan yang dapat dibuat untuk pasien dengan cedera kepala adalah :
   
    Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
    Tujuan :
    Mempertahankan pola napas yang efektif melalui ventilator.
    Kriteria evaluasi :
    Penggunaan otot bantu napas tidak ada, sianosis tidak ada atau tanda-tanda hipoksia tidak ada dan gas darah dalam batas-batas normal.
    Rencana tindakan :
•    Hitung pernapasan pasien dalam satu menit.  pernapasan yang cepat dari pasien dapat menimbulkan alkalosis respiratori dan pernapasan lambat meningkatkan tekanan Pa Co2 dan menyebabkan asidosis respiratorik.
•    Cek pemasangan tube, untuk memberikan ventilasi yang adekuat dalam pemberian tidal volume.
•    Observasi ratio inspirasi dan ekspirasi pada fase ekspirasi biasanya 2 x lebih panjang dari inspirasi, tapi dapat lebih panjang sebagai kompensasi terperangkapnya udara terhadap gangguan pertukaran gas.
•    Perhatikan kelembaban dan suhu pasien keadaan dehidrasi dapat mengeringkan sekresi / cairan paru sehingga menjadi kental dan meningkatkan resiko infeksi.
•    Cek selang ventilator setiap waktu (15 menit ), adanya obstruksi dapat menimbulkan tidak adekuatnya pengaliran volume dan menimbulkan penyebaran udara yang tidak adekuat.
•    Siapkan ambu bag tetap berada di dekat pasien, membantu membarikan ventilasi yang adekuat bila ada gangguan pada ventilator.
   
    Tidakefektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum.
    Tujuan :
    Mempertahankan jalan napas dan mencegah aspirasi
    Kriteria Evaluasi :
    Suara napas bersih, tidak terdapat suara sekret pada selang dan bunyi alarm karena peninggian suara mesin, sianosis tidak ada.
    Rencana tindakan :
•    Kaji dengan ketat (tiap 15 menit) kelancaran jalan napas. Obstruksi dapat disebabkan pengumpulan sputum, perdarahan, bronchospasme atau masalah terhadap tube.
•    Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi dada (tiap 1 jam ). Pergerakan yang simetris dan suara napas yang bersih indikasi pemasangan tube yang tepat dan tidak adanya penumpukan sputum.
•    Lakukan pengisapan lendir dengan waktu kurang dari 15 detik bila sputum banyak. Pengisapan lendir tidak selalu rutin dan waktu harus dibatasi untuk mencegah hipoksia.
•    Lakukan fisioterapi dada setiap 2 jam. Meningkatkan ventilasi untuk semua bagian paru dan memberikan kelancaran aliran serta pelepasan sputum.
   
    Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak
    Tujuan :
    Mempertahankan dan memperbaiki tingkat kesadaran fungsi motorik.
    Kriteria hasil :
    Tanda-tanda vital stabil, tidak ada peningkatan intrakranial.
    Rencana tindakan :
1.    Monitor dan catat status neurologis dengan menggunakan metode GCS.
    Rasional : Refleks membuka mata menentukan pemulihan tingkat kesadaran.
    Respon motorik menentukan kemampuan berespon terhadap stimulus eksternal dan indikasi keadaan kesadaran yang baik.
    Reaksi pupil digerakan oleh saraf kranial oculus motorius dan untuk menentukan refleks batang otak.
    Pergerakan mata membantu menentukan area cedera dan tanda awal peningkatan tekanan intracranial adalah terganggunya abduksi mata.
2.    Monitor tanda-tanda  vital tiap 30 menit.
    Peningkatan sistolik dan penurunan diastolik serta penurunan tingkat kesadaran dan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Adanya pernapasan yang irreguler indikasi terhadap adanya peningkatan metabolisme sebagai reaksi terhadap infeksi. Untuk mengetahui tanda-tanda keadaan syok akibat perdarahan.
3.    Pertahankan posisi kepala yang sejajar dan tidak menekan.
    Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak, untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
4.    Hindari batuk yang berlebihan, muntah, mengedan, pertahankan pengekuaran urin dan hindari konstipasi yang berkepanjangan.
    Dapat mencetuskan respon otomatik penngkatan intrakranial.
5.    Observasi kejang dan lindungi pasien dari cedera akibat kejang.   
    Kejang terjadi akibat iritasi otak, hipoksia, dan kejang dapat meningkatkan tekanan intrakrania.
6.    Berikan oksigen sesuai dengan kondisi pasien.
    Dapat menurunkan hipoksia otak.
7.    Berikan obat-obatan yang diindikasikan dengan tepat dan benar (kolaborasi).
    Membantu menurunkan tekanan intrakranial secara biologi / kimia seperti osmotik diuritik untuk  menarik air dari sel-sel otak sehingga dapat menurunkan udem otak, steroid (dexametason) untuk menurunkan inflamasi,  menurunkan edema jaringan. Obat anti kejang untuk menurunkan kejang, analgetik untuk menurunkan rasa nyeri efek negatif dari peningkatan tekanan intrakranial. Antipiretik untuk menurunkan panas yang dapat meningkatkan pemakaian oksigen otak.
   
    Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma )   
    Tujuan :
    Kebutuhan dasar pasien dapat terpenuhi secara adekuat.
   
    Kriteria hasil :
    Kebersihan terjaga, kebersihan lingkungan terjaga, nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan, oksigen adekuat.
    Rencana Tindakan :
    Berikan penjelasan tiap kali melakukan tindakan pada pasien.
    Penjelasan dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerja sama yang dilakukan pada pasien dengan kesadaran penuh atau menurun.
   
    Beri bantuan untuk memenuhi kebersihan diri.
    Kebersihan perorangan, eliminasi, berpakaian, mandi, membersihkan mata dan kuku, mulut, telinga, merupakan kebutuhan dasar akan kenyamanan yang harus dijaga oleh perawat untuk meningkatkan rasa nyaman, mencegah infeksi dan keindahan.
   
    Berikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
    Makanan dan minuman merupakan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk menjaga kelangsungan perolehan energi. Diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien baik jumlah, kalori, dan waktu.
   
    Jelaskan pada keluarga tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan yang aman dan bersih.
    Keikutsertaan keluarga diperlukan untuk menjaga hubungan klien - keluarga. Penjelasan perlu agar keluarga dapat memahami peraturan yang ada di ruangan.
   
    Berikan bantuan untuk memenuhi kebersihan dan keamanan lingkungan.
    Lingkungan yang bersih dapat mencegah infeksi dan kecelakaan.
   
    Kecemasan keluarga sehubungan keadaan yang kritis pada pasien.
    Tujuan :
    Kecemasan keluarga dapat berkurang
    Kriteri evaluasi :
    Ekspresi wajah tidak menunjang adanya kecemasan
    Keluarga mengerti cara berhubungan dengan pasien
    Pengetahuan keluarga mengenai keadaan, pengobatan dan tindakan meningkat.
    Rencana tindakan :
•    Bina hubungan saling percaya.
    Untuk membina hubungan terpiutik perawat - keluarga.
    Dengarkan dengan aktif dan empati, keluarga akan merasa diperhatikan.
•    Beri penjelasan tentang semua prosedur dan tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
    Penjelasan akan mengurangi kecemasan akibat ketidaktahuan.
•    Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertemu dengan klien.
    Mempertahankan hubungan pasien dan keluarga.
•    Berikan dorongan spiritual untuk keluarga.
    Semangat keagamaan dapat mengurangi rasa cemas dan meningkatkan keimanan dan ketabahan dalam menghadapi krisis.
   
Potensial gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak adekuatnya sirkulasi perifer.
    Tujuan :
    Gangguan integritas kulit tidak terjadi
    Rencana tindakan :
•    Kaji fungsi motorik dan sensorik pasien dan sirkulasi perifer untuk menetapkan kemungkinan terjadinya lecet pada kulit.
•    Kaji kulit pasien setiap 8 jam : palpasi pada daerah yang tertekan.
•    Berikan posisi dalam sikap anatomi dan gunakan tempat kaki untuk daerah yang menonjol.
•    Ganti posisi pasien setiap 2 jam
•    Pertahankan kebersihan dan kekeringan pasien : keadaan lembab akan memudahkan terjadinya kerusakan kulit.
•    Massage dengan lembut di atas daerah yang menonjol setiap 2 jam sekali.
•    Pertahankan alat-alat tenun tetap bersih dan tegang.
•    Kaji daerah kulit yang lecet untuk adanya eritema, keluar cairan setiap 8 jam.
•    Berikan perawatan kulit pada daerah yang rusak / lecet setiap 4 - 8 jam dengan menggunakan H2O2.


DAFTAR PUTAKA

Asikin Z. (1991). Simposium Keperawatan Penderita Cidera kepala Penatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas. (Jakarta).

Doenges. M. E. (1989). Nursing Care Plan. Guidelines For Planning Patient Care (2 nd ). Philadelpia, F.A. Davis Company

Harsono. (1993) Kapita Selekta Neurologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Kariasa I Made. (1997). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Cedera Kepala. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Jakarta.

Long; BC and Phipps WJ. (1985). Essensial of Medical Surgical Nursing : A Nursing process Approach St. CV. Mosby Company.

Tabrani. (1998). Agenda Gawat Darurat. Penerbit Alumni. Bandung.