Saturday, 9 March 2013

Konsep Fraktur

2.2.1.    Konsep Fraktur 
2.2.1.1.    Pengertian Fraktur (patah tulang) adalah diskontiunitas struktural pada tulang (Anderson, 1992). Fraktur dapat terjadi pada bagian-bagian tubuh manusia, misalnya : pada tulang femur, tibia, humerus, vertebre cervikalis. Fraktur femur mempunyai insiden yang cukup tinggi diantara jenis-jenis patah tulang (Jumaidi, 1995).
2.2.1.2    Penyebab fraktur menurut Barbara (1996), yaitu
1)    Benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan).
2)    Fraktur patofisiologik.
3)    Patah oleh karena letih.
2.2.1.3    Tanda-tanda fraktur menurut Jumaidi (1995), yaitu
1)    Sakit (nyeri).
2)    Inspeksi
(1)    Bengkak (oedem setempat)
(2)    Deformitas
3)    Palpasi
(1)    Nyeri
(2)    Krepitasi
4)    Gerakan
(1)    Aktif tidak bisa (fungsio laesa).
(2)    Pasif (gerakan abnormal).
2.2.1.4     Klasifikasi patah tulang menurut Barbara (1996), yaitu :
1)    Menurut bentuk patah tulangnya :
(1)    Fraktur Complete (garis fraktur melibatkan seluruh potongan      melintang dari tulang dan fragmen tulang)
(2) Fraktur Incomplete(fraktur potongan bagian menyilang      tulang)
(3) Fraktur Simple / Closed (fraktur tidak merusak kulit atasnya)                          
 (4) Fraktur Complikata / Open (fraktur merusak kulit, otot  kulit dan sekitarnya)                 
                                  (5) Fraktur tidak ada perubahan posisi
                             (6) Fraktur dengan perubahan posisi
                             (7) Fraktur Commmunited (trauma sampai menghancurkan tulang menjadi tiga atau lebih fragmen/kepin)
                              (8) Impact (Telescoped) Fraktur (ada fragmen yang terpendam     dalam substansia yang lain).
2)    Menurut garis patah tulangnya :
(1) Green stick
(2) Transverse (fraktur yang arahnya langsung melintasi tulang)
(3) Oblique (fraktur yang arahnya membentuk sudut melintasi tulang yang bersangkutan)
(3) Spiral (terpilinnya ekstremitas fraktur)
2.2.1.5     Pencegahan terjadinya patah tulang
Pendekatan pertama bentuk pencegahan adalah membuat lingkungan lebih aman, dengan langkah-langkah sebagai berikut  (Barbara, 1996).
1)    Adanya pegangan pada dinding didekat bak kamar mandi.
2)    Menjauhi kendala lain dari daerah yang dilalui pasien.
3)    Kursi roda lengkapi rem.
4)    Tidak minum-miniman beralkohol sambil mengemudi.
5)    Pemakaian sabuk pengaman.
6)    Harus berhati-hati mendaki tangga.
7)    Menggunakan pakaian pelindung pada saat olah raga.
2.2.1.6     Penanganan langsung pada pasien patah tulang
1)    Pasang bidai sebelum memindahkan pasien atau pertahankan gerakan diatas dan dibawa tulang yang fraktur sebelum transportasi.
2)    Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi oedem
3)    Kirim pasien untuk pertolongan emergensi.
4)    Pantau daerah yang cedera dalam periode waktu yang pendek  untuk sedini mungkin dapat melihat perubahan warna, pernapasan dan suhu.
5)    Memberikan toxoid tetanus bila patah tulang komplikata.
6)    Kompres dingin boleh dilaksanakan untuk menekan perdarahan, oedem dan nyeri.
7)    Obat penawar nyeri (aspirin dan narkotik).
2.2.1.7    Terapi sekunder pada pasien patah tulang.
1)    Fraktur simplika.
(1)    Reduksi normal.
1.    Manipulasi manual.
2.    Traksi.
3.    Reduksi terbuka.
(2)    Immobilisasi.
1.Fiksasi eksternal : gips, bidai.
2. Traksi.
3. Fiksasi internal : paku, plat / sekrup, kawat.
4.    Kombinasi dari tersebut diatas.
2)    Fraktur komplikata.
(1)    Debridemen luka.
(2)    Memberikan toxoid tetanus.
(3)    Pembiakan jaringan.
(4)    Membungkus luka.
(5)    Pengobatan dengan Anti Biotik.
(6)    Memantau gejala osteoporosis, tetanus, gangren.
(7)    Menutup luka bila tidak ada gejala infeksi
(8)    Reduksi fraktur
(9)    Immobilisasi fraktur
2.2.1.8      Komplikasi pada patah tulang menurut Barbara (1996), yaitu :
1)    Emboli
2)    Iskemik paralis (kontraktur)
3)    Osteomyelitis.
2.2.1.9    Traksi
Traksi adalah suatu mekanisme dimana terjadi penarikan yang teratur dan terus menerus dipasang pada angota badan (Barbara, 1996).
1)    Tujuan traksi adalah :
(1)    Mengurangi patah tulang.
(2)    Mempertahankan fragmen tulang pada posisi yang sebenarnya selama penyembuhan.
(3)    Meng imobilisasi bagian tubuh pada bagian jaringan lunak yang sedang dalam penyembuhan.
(4)    Mengatasi spasmus otot
(5)    Melepaskan adkesi
(6)    Memperbaiki deformitas
2)    Macam-macam traksi menurut Barbara (1996), yaitu :
(1)    Traksi tulang (skeletal traksi)
Skeletal traksi adalah traksi yang langsung kepada tulang. Pasien mendapatkan anastesi lokal (umum, skeletal traksi dapat dipakai pada fraktur femur, tibia, humerus dan vertebra cervikalis.
(2)    Traksi kulit (skin traksi)
Dilaksanakan dengan menggunakan pembalut flanel, plester atau alat yang sudah siap dari apotik, langsung dipasang pada kulit dan kemudian dipakai pemberat. Tarikan dari pemberat diarahkan secara tidak langsung kepada tulang yang cedera. Ekstensi Buck’s dan Russel adalah bentuk terkenal untuk traksi kulit pada cedera kaki bawa.
Ekstensi Buck’s adalah sering dipakai untuk menyembuhkan spasmus otot dan untuk mobilitas bagian anggota badan sementara, seperti : pada fraktur panggul sebelum reduksi terbuka dan fiksasi internal. Traksi Russel untuk pertolongan pasien fraktur dari femur, bila pembedahan merupakan kontra indikasi Buck’s dan Russel dipakai untuk pengobatan nyeri pinggang karena membuat pasien imobilisasi dan mengurangi spasmus otot (Barbara, 1996).
2.2.2    Asuhan Keperawatan fraktur femur. 
2.2.2.1    Pengkajian data dasar (Doenges, 2000)
1)Aktifitas istirahat ,
    Tanda : keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang    terkena.
2) Sirkulasi                                   Tanda  : Hipertensi (respon terhadap nyeri/cemas) atau                             hipotensi (kehilangan darah), tahikardia.   
3)    Neurosensori                          Gejala hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot ,        kesemutan.
Gejala  : deformitas lokal                   
4)    Nyeri/kenyaman                       
Gejala   : nyeri berat tiba-tiba pada cidera, spasme/kram otot
5)    Keamanan
Tanda : laserasi kulit, perdarahan perubahan warna, pembengkakan lokal.
2.2.2.2    Pemeriksaan Diagnostik (Carpenito, 2000)
1) Rontgen foto
2) Skan tulang, Skan CT/M
3) Arteriogram
4) Hitung darah lengkap
5) Kreatinin
2.2.2.3    Diagnosa  Keperawatan.
1). Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan            kehilangan integritas tulang (fraktur)   
2). Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang. edema pada jaringan lunak, alat traksi (imobilisasi), stress/ansietas. 
3). Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler periper berhubungan dengan penurunan interupsi aliran darah, Hipovalemi.
4). Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti).
5). Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler (nyeri/ketidaknyamanan, terapi retriktif).
6). Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cidera tusuk, fraktur terbuka, penyangga traksi pen, kawat, sekrup.
7). Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer (kerusakan kulit, trauma jaringan), prosedur invasive (traksi tulang).
8).  Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan, salah interpretasi informasi (tak mengenal sumber informasi).