Saturday, 2 March 2013

Asuhan Keperawatan Tuli


   
MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN TULI
                            
 Di Susun Untuk Memenuhi
 Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah
Dosen Pengampu : Arisnawati, S.Kep
                                                          

Disusun Oleh :
                        Kelompok I

AKADEMI KEPERAWATAN AL-HIKMAH 02
BENDA SIRAMPOG BREBES
                                                        2012

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun tugas ini yang berjudul " Askep Pada Gangguan Tuli " tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Benda,       Agustus 2012



Penyusun












BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
            Ketidaksempurnaan kadang membuat seseorang minder dalam pergaulannya sehari-hari. Kehilangan pendengaran, termasuk salah satu kekurangan yang membuat anak-anak sulit tumbuh normal dikalangan masyarakat.

 
          Ketulian disebabkan karena virus Toxoplasma Rubella atau campak, Herpes, dan Sipilis. Terkadang kedua orang tua tidak menyadari bahwa dirinya telah mengidap virus tersebut sehingga menyebabkan ketulian pada anaknya kelak.
.                                           
        
     Ketulian juga bisa dialami ketika anak pada masa pertumbuhan, misalnya pada saat lahir, anak lahir normal hanya saja menjelang usia 10 tahun ia mengalami sakit sehingga diberikan obat dengan dosis tinggi sehingga menyerang telinganya. Jadi ada gangguan pendengaran karena obat-obatan yang memiliki efek samping menyebabkan ketulian. Seperti pil kina juga mempunyai pengaruh yang besar pada telinga, maupun aspirin juga terbilang rawan, oleh karena
 Itu harus hati-hati bila digunakan.
              Faktor genetik juga bisa mempengaruhi, misalnya kedua orang tuanya normal, namun kakek dan neneknya memiliki riwayat pernah mengalami ketulian. Hal ini bisa berdampak pada anak. Anak terlahir dengan disedot, vakum, Caesar juga bisa merusak saraf pendengaran. Jika anak mengalami tuli saraf, tentu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa di bantu dengan alat bantu dengar semata.

          Terapi yang bisa membuat kembali mendengar itu tidak ada kecuali untuk para tuli konduktif yang disebabkan karena infeksi. Infeksi ini dapat disembuhkan tetapi ketuliannya belum tentu sembuh.
  

B.     Tujuan
      1.Tujuan Umum
      2.Tujuan Khusus
  a.       Memenuhi tugas pembuatan Askep mata ajar keperawatan Medical Bedah 1
b.              Dapat membuat rencana tindakan keperawatan
c.              Dapat melekukan intervensi yang telah dibuat
d.              Mengetahui asuhan keperawatan kehilangan pendengaran(Tuli)
             C.     Ruang Lingkup Penulisan
   Penulis hanya membahas mata pelajaran keperawatan Medical Bedah 1 tentang Asuhan keperawatan kehilangan pendengaran:TULI

D.    Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari dan membawa buku-buku ilmiah sebagai sumber makalah khususnya yang berhubungan dengan Asuhan Keperawatan Gangguan Pendengaran.















BAB II
KONSEP DASAR

        A.    Pengertian
Tuli ialah keadaan dimana orang tidak dapat  mendengar sama sekali (total deafness), suatu bentuk yang ekstrim dari kekurangan pendengaran. Istilah yang sekarang lebih sering digunakan ialah kekurangan pendengaran (hearing-loss)
(Louis,1993).
Kekurangan pendengaran ialah keadaan dimana orang kurang dapat mendengar dan mengerti perkataan yang didengarnya.Pendengaran normal ialah keadaan dimana orang tidak hanya dapat mendengar, tetapi juga dapat mengerti apa yang didengarnya.(Anderson,1874)

 B.     Anatomi Fisiologi Telinga
   Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1.        Telinga Luar, terdiri dari :
a.       Pinna/Aurikel/Daun Telinga
Pinna merupakan gabungan tulang rawan yang diliputi kulit, melekat pada sisi kepala. Pinna membantu mengumpulkan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus.
b.      Liang Telinga/Kanalis Autikus Externus (KAE)
Memiliki tulang rawan pada bagian lateral dan bertulang pada bagian medial, seringkali ada penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang rawan ini.
c.       Kanalis Auditorius Exsternus
Panjangnya sekitar 2,5 cm, kulit pada kanalis mengandung kelenjar glandula seruminosa yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut juga serumen. Serumen mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan kulit. Kanalis Auditorius Eksternus akan berakhir pada membran timpani.
2.      Telinga Tengah, terdiri dari :

a.       Membran Timpani/Gendang Telinga membatasi telinga luar dan  tengah.
Merupakan suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncak-nya umbo mengarah ke medial. Membrane timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis, lapisan fibrosa, tempat melekatnya tangkai malleus dan lapisan mukosa di bagian dalamnya.
b.      Kavum Timpani
Dimana terdapat rongga di dalam tulang temporal dan ditemu-kan 3 buah tulang pendengaran yang meliputi :
1)      Malleus, bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga.
2)      Inkus, menghubungkan maleus dan stapes.
3)      Stapes, melekat pda jendela oval di pintu masuk telinga dalam.
c.       Antrum Timpani
Merupakan rongga tidak teratur yang agak luas terletak dibagian bawah samping kavum timpani, antrum dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum timpani, rongga ini berhubungan dengan beberapa rongga kecil yang disebut sellula mastoid yang terdapat dibelakang bawah antrum di dalam tulang temporalis.
d.      Tuba Auditiva Eustakhius
Dimana terdapat saluran tulang rawan yang panjangnya ± 3,7 cm berjalan miring kebawah agak ke depan dilapisi oleh lapisan mukosa. Tuba Eustakhius adalah saluran kecil yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga.
3.           Telinga Dalam, terdiri dari :
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan.




C.    Etiologi
Penurunan fungsi pendengaran bisa disebabkan oleh : Suatu masalah mekanis di dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif)  yaitu :
1. Kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf
     Pendengaran di otak (penurunan fungsi pendengaran sensorineural).
2. Penurunan fungsi pendengaran sensorineural dikelompokkan menjadi :
a. Penurunan fungsi pendengaran sensorik (jika kelainannya terletak pada telinga dalam.
b. Penurunan fungsi pendengaraan neural (jika kelainannnya terletak pada saraf pendengaran  atau jalur saraf pendengaran di otak).
3. Penurunan fungsi pendengaran sensorik bisa merupakan penyakit keturunan
     Tetapi mungkin juga disebabkan oleh :
a. Trauma akustik (suara yang sangat keras)
b. Infeksi virus pada telinga dalam
c. Obat-obatan tertentu
d. Penyakit meniere.
4. Penurunan fungsi pendengaran neural bisa disebabkan oleh :
     a. Tumor oatak yang juga menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf disekitarnya dan batang    otak
b.  Infeksi
c.  Berbagai penyakit otak dan saraf (misalnya stroke)
d. Dan beberapa penyakit keturunan (misalnya penyakit Refsum).
5. Pada anak-anak,kerusakan saraf pendengaran bisa terjadi akibat :
a. Gondongan
b. Campak jerman (rubella)
c. Meningitis
d. Infeksi telinga dalam.
Kerusakan jalur saraf pendengaran di otak bisa terjadi akibat penyakit demielinasi (penyakit  yang menyebabkan kerusakan pda selubung saraf).

            D.       Gejala kehilangan pendengaran
1)   Deterlorisasi wicara
       Individu yang bicara dengan bagian akhir kata tidak jelas atau dihilangkan, atau mengeluarkan kata-kata bernada datar, mungkin karena tidak mendengar dengan baik, Telinga memandu suara, baik kekerasan maupun ucapannya.
2) Keletihan
      Bila Individu merasa mudah lelah ketika mendengarkan percakapan atau pidato, keletihan bisa disebabkan oleh usaha keras untuk mendengarkan. Pada keadaan ini, Individu tersebut menjadl mudah tersinggung.
3) Acuh
      Individu yang tak bisa mendengar perkataan orang lain mudah mengalami depresi dan ketidaktertarikan terhadap kehidupan secara umum. Menarik dlri dari sosial Karena tak mampu rnendengar apa yang terjadi di sekitarnya
.
4)  Rasa tak nyaman
      Kehilangan rasa percaya diri dan takut berbuat salah menciptakan suatu perasaan tak aman pada kebanyakan orang dengan gangguan pendengaran. Tak ada seorang pun yang menginglnkan untuk mengatakan atau melakukan hal yang salah yang cenderung membuatnya nampak bodoh. Tak mampu membuat keputusan-prokrastinal.Kehilangan kepercayaan diri membuat seseorang dengan gangguan pendengaran sangat kesulitan untuk membuat keputusan.
5)  Kecurigaan
     Individu dengan kerusakan pendengaran, yang sering hanya mendengar sebagian dari yang dikatakan, bisa merasa curiga bahwa orang lain membicarakan dirinya atau bagian percakapan yang berhubungan dengannya sengaja diucapkan dengan lirih sehingga la tak dapat mendengarkan
6)   Kebanggaan semu
      Individu dengan kerusakan pendengaran berusaha menyembunyikan kehilangan pendengarannya. Konsekwensinya, ia sering berpura-pura mendengar padahal sebenarnya tidak.
Kesepian dan ketidak bahagiaan Meskipun setiap orang selalu menginginkan ketenangan, namun kesunyian yang dipaksakan dapat membosankan bahkan kadang menakutkan. Individu dengan kehilangan pendengaran sering merasa (terasing)

7)   Kesulitan dalam mendengarkan percakapan, terutama jika di sekelilingnya berisik
8)   Terdengar gemuruh atau suara berdenging di telinga (tinnitus)
9)   Tidak dapat mendengarkan suara televisi atau radio dengan volume yang normal
10)  Kelelahan dan iritasi karena penderita berusaha keras untuk bisa mendengar
11)   Pusing atau gangguan keseimbangan
           E. Pemeriksaan penunjang
 1. Pemeriksaan Otoskopik
Menggunakan alat otoskop untuk memeriksa meatus akustikus eksternus dan membrane timpani dengan cara inspeksi :
Hasil:
 a. serumen berwarna kuning, konsistensi kenta
 b. dinding liang telinga berwarna merah muda
 2. Tes Ketajaman PendengaraN
  a. tes penyaringan sederhana
 Hasil :
-klien tidak mendengar secara jelas angka-angka yang disebutkan
-klien tidak mendengar secara jelas detak jarum jam pada jarak 1-2 inchi
 b. uji ritme
hasil : klien tidak mendengarkan adnya getaran garpu tala dan tidak jelas mendengar adnya bunyi dan saat bunyi menghilang.
F.    Penatalaksanaan
     1. Membersihkan liang telinga dengan penghisap atau kapas dengan hati-hati. Penilaian  terhadap secret,oedema dinding kanalis dan membrane timpani bila  memungkinkan.
     2. Terapi antibiotika local, topical dan sistemik
   3. Terapi analgetik

   G. Pemeriksaan Diagnostik
            a)       Audiometri
Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu dengan menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan ketinggian dan volume
tertentu. Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.
Telinga kiri dan telinga
kanan diperiksa secara terpisah. Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang digetarkan, yang kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus.
          b)        Audiometri Ambang bicara
Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa dimengerti. Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu.Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-kata yang diucapkan dengan benar.
         c)   Timpanometri
Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan terhadap tekanan)
. Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif.
Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digunakan pada anak-anak.Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus menerus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga.Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah dan berapa banyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan. .
            d)     Elektrokokleografi
Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengaran.
Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsi pende
ngaran.

H. Pengobatan
Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya.
Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut.
Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan pencangkokan koklea.
a.       Alat bantu
          Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar. Alat bantu dengar terdiri dari:
Ø  Sebuah mikrofon untuk menangkap suara
Ø  Sebuah amplifiar untuk meningkatkan volume suara
Ø  Sebuah speaker untuk menghantarkan suara yang volumenya telah dinaikan
Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologisbisa menentukan apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran).
b.      Pencangkokan koklea

Pencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli berat yang tidak dapat mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu dengar.
Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari 4 bagian:
1.      Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar
2.      Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara yang tertangkap oleh mikrofon
3.      Sebuah transmitter dan stimulator atau penerima yang berfungsi menerima sinyal dari prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang listrik
4.      Elektroda berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator dan mengirimnya ke o




BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

  1.  Pengkajian
Perawat perlu melakukan anamnesa dari keluhan klien seperti :
Nyeri saat pinna (aurikula) dan tragus bergerak
1. Nyeri pada liang tengah
2).Telinga terasa tersumbat
3). Perubahan pendengaran
4). Keluar cairan dari telinga yang berwarna kehijauan
Riwayat kesehatan yang perlu ditanyakan kepada klien diantaranya :
1).  Kapan keluhan nyeri terasa oleh klien
2).  Apakah klien dalam waktu dekat lalu berenang dilaut,kolam renang
Ataukah danau
            3). Apakah klien sering mengorek-ngorek telinga sehingga mengakibatkan nyeri setelah dibersihkan
            4). Apakah klien pernah mengalmi trauma terbuka pada liang telinga akibat terkena benturan sebelumnya
  1. Diagnosa keperawatan
  1. Gangguan komunikasi verbal b.d degenerasi tulang-tulang pendengaran bagian dalam
  2.  Harga Diri b.d Fungsi Pendengaran Menurun                
  3.  Kurang aktivitas b.d menarik diri lingkungan

C.                      Intervensi
Diagnosa keperawatan 1
      Gangguan komunikasi verbal b.d degenerasi tulang-tulang pendengaran bagian dalam
       1.      Tujuan
            Komunikasi verbal klien berjalan baik
            Kriteria hasil:
            Dalam 1 hari klien dapat :
1.      Menerima pesan melalui metode alternative
2.      Mengerti apa yang diungkapkan
3.      Memperlihatkan suatu peningkatan kemampuan untuk berkomunikasi
4.      Menggunakan alat bantu dengar dengan cara yang tepat
            Diagnosa keperawatan II
            Harga Diri b.d Fungsi Pendengaran Menurun
            Tujuan:
  Klien dapat menerima keadaan dirinya
Kriteria hasil
Secara bertahap klien dapat :
1.      Mengenai perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri
2.      Berhubungan sosial dengan orang lain
3.      Mendapat dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk b.d orang lain
4.      Membina hubungan saling percaya dengan perawat
 Intervensi:
1.      Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
2.      Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab klien tidak mau bergaul / menarik diri
3.      Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang mungkin
4.      Beri pujian thd kemampuan klien mengungkapkan perasaan
5.      Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan dan kerugian dari perilaku menarik diri
6.      Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain
7.      Bina hubungan saling percaya dengan klien

Diagnosa keperawatan III
Kurang aktivitas b.d menarik diri lingkungan
Tujuan:
 \  Klien dapat melakukan aktivitas tanpa kesulitan
Kriteria hasil
Secara bertahap klien dapat :
1.      Menceritakan perasaan-perasaan bosan
2.      Melaporkan adanya peningkatan dalam aktivitas yang menyenangkan
3.      Menceritakan metoda koping thd perasaan marah atau depresi yang disebabkan koleh kebosanan
2.      Intervensi / rencana tindakan
a.gangguan komunikasi verbal
tindakan / intervensi
1.      Kaji tingkat kemampuan klien dalam penerimaan pesan
2.      Periksa apakah ada serumen yang menganggu pendengaran
3.      Bicara dengan pelan dan jelas
4.      Gunakan alat tulis pada waktu menyampaikan pesan
5.      Beri dan ajarkan klien pada penggunaan alat bantu dengar
6.      Pastikan alat bantu dengar berfungsi dengan baik
7.      Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan telinga
Intervensi:
1.      Beri motivasi untuk dapat saling berbagi perasaan dan pengalaman
2.      Bantu klien untuk mengatasi perasaan marah dari berduka
3.      Variasikan rutinitas sehari-hari
4.      Libatkan individu dalam merencanakan rutinitas sehari-hari
5.      Rencanakan suatu aktivitas sehari-hari
6.      Berikan alat bantu dalam melakukan aktivitas

D.                     Implementasi
Pelaksanaan intervensi

E.                      Evaluasi
Tidak dapat dilakukan karena tidak ada pasien



















BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
           Ketulian disebabkan karena virus Toxoplasma Rubella atau campak, Herpes, dan Sipilis. Terkadang kedua orang tua tidak menyadari bahwa dirinya telah mengidap virus tersebut sehingga menyebabkan ketulian pada anaknya kelak.
        
     Ketulian juga bisa dialami ketika anak pada masa pertumbuhan, misalnya pada saat lahir, anak lahir normal hanya saja menjelang usia 10 tahun ia mengalami sakit sehingga diberikan obat dengan dosis tinggi sehingga menyerang telinganya.
               Jadi ada gangguan pendengaran karena obat-obatan yang memiliki efek samping menyebabkan ketulian. Seperti pil kina juga mempunyai pengaruh yang besar pada telinga, maupun aspirin juga terbilang rawan, oleh karena Itu harus hati-hati bila digunakan.
                Faktor genetik juga bisa mempengaruhi, misalnya kedua orang tuanya normal, namun kakek dan neneknya memiliki riwayat pernah mengalami ketulian. Hal ini bisa berdampak pada anak. Anak terlahir dengan disedot, vakum, Caesar juga bisa merusak saraf pendengaran. Jika anak mengalami tuli saraf, tentu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa di bantu dengan alat bantu dengar semata.


       B. Saran
1.      Mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan program yang mengajarkan tentang Asuhan Keperawatan tentang Gangguan pendengaran (TULI).
2.      Pembaca diharapkan bisa memahami pembahasan Asuhan Keperawatan tentang Gangguan  pendengaran.
3.      Para pemimbing atau pengajar diharapkan mampu memberikan pendidikan kesehatan secara lebih detail tentang Gangguan pendengaran.



DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (2002),keperawatan medical bedah.Edisi 8.EGC.Jakarta
Drs.H.Syaifuddin, AMK.Anatomi Fisiologi.Edisi 3.EGC.Jakarta.
www.Asuhan keperawatan pada gangguan pendengaran pendengaran.com
www.Akibat kehilangan pendengaran.com