Saturday, 9 March 2013

Makalah INFEKSI LUKA TRAUMA

INFEKSI LUKA TRAUMA


    Regio maxilofasial adalah regio yang memiliki perlawanan yang kuat terhadap infeksi yang disebabkan oleh trauma. Ini dimungkinkan karena tingkat vaskualrisasi yang tinggi dibanding dengan bagian lain pada tubuh. Pada luka trauma yang dalam sangat mudah untuk terjadi infeksi, karena pada tempat tersebut tidak dapat terjadi pengeluaran secara spontan. Sehingga dengan mudah infeksi dapat terjadi. Oksigen yang rendah pada lingkungan tersebut akan menyebabkan organisme anaerob untuk berkembang biak didalam daerah tersebut, dan akan menghambat pertumbuhan organisme aerob untuk berkembang biak.
    Laserasi trauma secara umum tidak banyak akan menjadi infeksi, jika secara khusus jaringan yang terkena trauma secara tepat tejadi debraidement dan perbaikan, dan perbaikan ini akan terjadi 6-8 jam pertama. Perbaikan laserasi pada kepala dan leher dapat terselesikan secara sempurna selama 24-30 jam setelah tercipta laserasi traumatic tanpa peningkatan perubahan infeksi yang serius.
    Sebuah abses biasanya segera terbentuk yang melibatkan pola space fasial laserasi traumatic yang terinfeksi dimanifestasikan dengan erytema dan rasa  nyeri yang berkelanjutkan pada luka.
    Pengobatan luka trauma yang mengalami infeksi antara lain:
1.    Pembuatan drainase
2.    penelitian culture aerob dan anaerob
3.    pemberian antibiotik.
Cara yang paling efektif untuk perlakuan luka yang terinfeksi sebagai pencegahan melalui penggunaan teknik debraidement, irigasi luka, penjahitan luka, pemberian antibiotik yang tepat. Disamping itu juga diperluka pengambilan gambaran rongsen untuk mengetahui apakah didalam luka masih ada sisa benda asing atau tidak.

TETANUS 
    Penyakit tetanus disebabkan oleh Clostradium tetani yang bersifat komensal pada manusia dan terdapat dalam saluran pencernaan dan dalam tanah. Penyakit ini dapat membunuh host yang terinfeksi. Penyakit ini mampu memproduksi neuro toksin yang kuat yang disebut tetanospasmin. Toksin ini dapat menyerang saraf motorik didala kepala dan leher. Manifestasi awal dari tetanus adalah trismus, dimana otot yang terserang adalah otot masseter dan pterigoid medialis.
    Tanda awal dari tetanus antara lain fever, imsonia, iritabilitas, dispagia dan tremor. Kelompok otot lain yang terlibat adalah otot fasialis dan otot spinal. Disamping itu otot-otot pada larynx, pharynx dan thorax juga dapat terinfeksi.
    Pengobatan pada tetanus dilakukan dengan cara melakukan inkubasi selam 3-4 minggu dan apabila dilakukan lebih lama lagi akan memiliki prognis yang lebih baik. Pengobatan lain yang dapat dilakukan antara lain :
1.    Pengelolaan suplemen oksigen
2.    Bantuan pernafasan
3.    Tracheostomy bila diperlukan
4.    Monitoring jantung
5.    Proteksi dari rangsangan yang tidak diperlukan
6.    Pemberian antibiotika
Pada masa kanak-kanak pemberian imunisasi tetanus sangatlah penting sebagai tindakan pencegahan penyakit tetanus.

HUMAN BITES
    Luka yang disebabkan dari gigitan manusia dapat menjadi salah satu hal penting yang dapat menimbulkan masalah infeksi. Hal ini disebabkan karena pada mulut manusia terdapat oral flora yang memiliki konsentrasi yang tinggi. Luka yang terjadi seharusnya diirigasi, pembersihan luka dan penjahitan luka adalah tindakan yang sangat penting.

ANIMAL BITES
    Gigitan binatang pada kepala dan leher dapat menyebabkan infeksi jika luka yang ditimbulkan tidak mendapatkan perawatan yang selayaknya. Bakteri patogen yang menyebabkan infeksi dan terdapat pada kucing atau anjing adalah Pasteurella multocida. Dan organisme lain yang juga terdapat pada kucing atau anjing adalah Staph. Aureus, streptococi, Moraxella species dan Neisseria species.
    Pengobatan yang dilakukan antara lain:
1.    Debridement
2.    Irigasi
3.    Penjahitan luka
4.    Pemberian penicilin
5.    Alternatif lain yang dilakukan adalah pemberian amoxicilin atau asam clavulanic.

RABIES
    Sangat penting mengingat gigitan binatang yang terjadi pada daerah maxilofacial yang dapat menularkan rabies pada pasien. Rabies adalah infeksi virus yang menyebabkan iritasi pada saraf pusat, dalam proses ini akan terjadi paralise dan kematian. Masa inkubasi berkisar 10 minggu sampai satu tahun.
 Manifestasi dari gejala rabies adalah kegelisahan dan peningkatan saliva. Pasien selanjutnya akan mengalami kesulitan dalam hal menelan dan kesulitan bicara. Hal yang lebih lanjut akan terjadi kesulitan dalam pernafasan, dan menyebabkan kematian yang berasal dari asphyxia 3-10 hari setelah gejala timbul.
    Pengobatan pada rabies adalah dengan pemberian globulin imun dan pemberian vaksinasi.