Thursday, 7 March 2013

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMAKEPALA

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMAKEPALA

BAB I PENDAHULUAN


1.    Definisi Penyakit
Comutio cerebri (Trauma Kepala) adalah luka yang terjadi pada kulit kepala, tulang
kepala atau otak (Billing dan Stokes, 1982).
Trauma kepala dapat mempengaruhi perubahan fisik maupun psikologis bagi klien dan keluarganya (Siahaan, 1994).

2.    Tanda dan gejala
Tingkat keparahan trauma kepala:
-    Trauma kepala ringan, nilai Skala Koma Glasgow (GCS) 13-15, dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit, tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio serebri maupun hematoma.
-    Trauma kepala sedang, nilai Skala Ko9ma Glasgow (GCS) 9-12, kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebihg dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam, dapat mengalami fraktur tengkorak.
-    Trauma kepala berat, nilai Skala Koma Glasgow (GCS) 3-8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam, juga meliputi kontusio serebral-laserasi-hematoma intrakranial.

Tanda dan gejala trauma kepala :
-    Pingsan setelah trauma dibawah 10 mnt.
-    Nyeri kepala
-    Mual muntah
-    Amnesia sesaat/sementara (lupa kejadian).

3.   Patofisiologi

Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi.
Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak  tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan me3niombulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa  plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala. Gejala permulaan disfungsi serebral, pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak  akan terjadi penimbunan laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini menyebabkan asidosis metabolik. Dalam keadaan normal aliran darah serebral (CBF) adalah 50 – 60 ml/mnt/100gr jaringan otak yang merupakan  16% daricurah jantung/kardiak output (CO). Trauma kepala sampai otak tentunya akan menimbulkan gangguan pada sistem-sistem besar tubuh yang dikendalikan oleh otak, diantaranya sistem kardiovaskuler, respiratori, metabolisme, gastrointestinal, mobilisasi fisik. Selain itu juga mempengaruhi faktor psikologis.

4.     Pemeriksaan penunjang

-    Laboratorium darah rutin:
Hb, hematokrit, lekosit, trombosit, elektrolit, ureum, kreatinin, glukosa, golongan darah, analisa gas darah bila perlu.   

-    Foto kepala: AP, Lateral, Towne.
-    Foto sevical bila ada tanda-tanda frakturt servical.
-    CT- Scan
-    Arteriografi kalau perlu.
-    Burr Holes: dilakukan bila keadaan pasien cepat memburuk disertai  dengan penurunan kesadaran

5.    Manajemen terapi

-    Obat-obatan: Dexamethason/Kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
-    Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Untuk mengurangi vasodilatasi.
-    Pemberian analgetika.
-    Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40% atau gliserol 10%.
-    Antibiotika yang mengandung barier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidazole.
-    Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infus dektrose 5%, aminofisin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
-    Pembedahan.
-    Pada trauma berat. Karena hari-hari pertyama didapat penderita mengalami penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit, maka hari-hari [ertama (2-3 hari), tidak terlalu banyak cairan. Dekstrose 5% 8 jam pertama, Ringe dekstrose 8 jam kedua dan Dekstrose 5% 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah, makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500-3000 cc TKTP). Pemberian protein tergantung nilai urea N.



BAB II
Standar Asuhan Keperawatan

1.    Masalah yang lazim muncul pada klien

a.    Pola nafas tidak efetif
b.    PK : Peningkatan Tekanan Intra Kranial
c.    Kelebihan Volume Cairan
d.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
e.    Gangguan persepsi sensori
f.    Nyeri akut
g.    Cemas






DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, L.J, 1999, Buku saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8, EGC, Jakarta

Doenges, M.E,  Moorhouse,  M.  F, Geissler,  A.C,  1999,  Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta

McCloskey,  J.C,  Bulechek,  G.M,  1996, Nursing Intervention Classification (NIC), ,Mosby, St. Luis

NANDA,  2001,  Nursing Diagnoses  :  Definition and Classification  2001 – 2002,  Philadelpia

Bandini,  Nancy Swift,  Manual of  Nursing,  Little Brown And Company,  Boston,  1993 Neurological

Long, B. c, Phipps, Wj, Esential of Medical Surgical Nursing, CV, Mosby Company, St. Luis. 1985