Thursday, 7 March 2013

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN HOSPITALISASI

ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN HOSPITALISASI


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kulia Keperawatan Jiwa













Dosen Pengampu :
Slamet Wijaya B, S.Kep.

Disusun Oleh :
Ahmad Sofa Mubarok    



AKADEMI KEPERAWATAN AL HIKMAH 2 BREBES
Jl. PONPES AL HIKMAH BENDA SIRAMPOG – BREBES
2012




A.    KONSEP DASAR HOSPITALISASI
Berikut ini hal-hal yang dibahas dalam konsep dasar hospitalisasi yaitu pengertian, social penyebab social di rumah sakit, tingkatan perawatan, dimensi peran sakit, reaksi dan masalah perilaku klien yang dirawat dan respon perawat.
1.    Pengertian
Hospitalisasi adalah suatu proses karena suatu  ocial  darurat atau berencana mengharuskan individu untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Hospitalisasi dapat berupa  ocial ti atau mendukung untuk pasien, tergantung pada institusi, sikap keluarga dan teman, respon staf, dan jenis penerimaan. Ada dua jenis hospitalisasi, yaitu  ocial ti dan involunter (Wanda, 2003).
a.    Volunter
Setiap orang dapat mengajukan permohonan secara tertulis (biasanya pada formulir masuk standar) untuk masuk ke rumah sakit jiwa umum atau swasta. Orang itu setuju untuk menerima perawatan dan mematuhi peraturan rumah sakit. Orang mungkin mencari bantuan berdasarkan keputusan pribadi mereka atau saran dari keluarga atau kesehatan yang social tive .
b.      Involunter
Involunter didasarkan pada dua teori socia. Pertama, di bawah kekuasaan polisi tersebut,  ocial memiliki kewenangan untuk melindungi masyarakat dari tindakan berbahaya dari sakit mental. Kedua, di bawah kekuasaan social, social dapat memberikan perawatan bagi warga social yang tidak dapat merawat diri mereka sendiri, seperti beberapa orang sakit mental.
Hospitalisasi adalah bentuk stressor individu yang berlangsung selama individu tersebut dirawat dirumah sakit (http://zieshila.wordpress.com, 2009). Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individu karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman, seperti:
a.       Lingkungan yang asing,
b.      Berpisah dengan orang yang berarti,
c.       Kurang informasi,
d.      Kehilangan kebebasan dan kemandirian,
e.       Pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, semakin sering berhubungan dengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau malah sebaliknya,
f.       Perilaku petugas rumah sakit.
2.          Faktor Penyebab Stres di Rumah Sakit
Dirawat di rumah sakit adalah situasi yang baru yang tidak menyenangkan bagi klien, dengan masuk ke rumah sakit semua kebiasaan yang selama ini dilakukan sendiri menjadi tidak  oci dilakukan dan terbatas, perasaan stress yang dirasakan oleh klien disebabkan karena banyaknya stressor baru yang dihadapi secara bersamaan, misalnya lingkungan yang asing, bagaimana merasakan sakit yang sedang dihadapi, klien juga mengahadapi berbagai prosedur tindakan keperawatan, tindakan social tiv, program terapi, berubahnya pola nutrisi, biaya perawatan, pekerjaan yang ditinggalkan, peran social yang ditinggalkan, dan lain-lain.
Sedangkan para anak-anak stressor yang dihadapi adalah lingkungan baru dan asing, pengalaman yang menyakitkan dengan petugas. Klien harus menghadapi tindakan prosedur tindakan keperawatan, prosedur social tiv, prosedur terapi, berpisah dengan mainan, berpisah dengan teman bermain, berpisah dengan orang tua dalam arti sementara. Kondisi ini menyebabkan klien menjadi stress dan perlu bantuan yang efektif melalui pendekatan asuhan keperawatan (Rasmun, 2004).
3.      Tingkatan Perawatan
Ada beberapa tingkatan perawatan dalam rumah sakit (Stuart & Laraia, 2005), yaitu:
a.     Rawat inap
1)      Berisiko terhadap memburuknya status medis yang disebabkan adanya kondisi kejiwaan atau penyalahgunaan zat aktif.
2)      Tidak sesuai pada tingkat pelayanan intensif.
b.     Perawatan parsial
1)      Berisiko tinggi terhadap kerusakan status medis yang disebabkan oleh adanya kondisi kejiwaan atau penyalahgunaan zat aktif.
2)     Tidak aman pada tingkat kurang intensif pelayanan.
3)      Kebutuhan intervensi terapi yang intensif dengan ketersediaan system dukungan dokter yang memadai untuk menjaga keselamatan.
4)     Tidak  ocial tiv terhadap pengobatan
c.        Intensif rawat jalan
1)     Membutuhkan terapi intervensi untuk memperbaiki fungsi.
2)     Tidak sesuai untuk tingkat pelayanan yang kurang intensif.
3)     Dukungan terhadap social yang memadai atau keterampilan berupaya untuk menjaga stabilitas dan keamanan antara kunjungan terapeutik.
4)      Tidak social tiv terhadap pengobatan, intensifikasi gejala atau penurunan tingkat yang biasa berfungsi meskipun partisipasi dalam tingkat pelayanan.
d.     Rawat jalan
1)     Terapi rawat jalan diperlukan untuk mengurangi gejala akut.
2)      Sistem dukungan yang memadai untuk menjaga keselamatan antara kunjungan terapeutik.
4.        Dimensi Peran Sakit
Perubahan yang terjadi akibat hospitalisi  adalah :
a.    Perubahan konsep diri.
Akibat penyakit yang di derita atau tindakan seperti pembedahan, pengaruh citra tubuh , perubahan citra tubuh dapat menyebabkan perubahan peran , idial diri, harga diri dan identitasnya.
b.      Regresi
Klien mengalami kemunduran ketingkat perkembangan sebelumnya atau lebih rendah dalam fungsi fisik, mental, prilaku dan intelektual.
c.       Dependensi
Klien merasa tidak berdaya dan tergantung pada orang lain.
d.         Dipersonalisasi
Peran sakit yang dialami klien menyebabkan perubahan kepribadian, tidak realistis, tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, perubahan identitas dan sulit bekerjasama mengatasi masalahnya
e.        Takut dan Ansietas
Perasaan takut dan ansietas timbul karena persepsi yang salah terhadap penyakitnya.
f.       Kehilangan dan perpisahan
Kehilangan dan perpisahan selama klien dirawat muncul karena lingkungan yang asing dan jauh dari suasana kekeluargaan, kehilangan kebebasan, berpisah dengan pasangan dan terasing dari orang yang dicintai.
5.        Reaksi dan Masalah Perilaku Klien yang Dirawat
Berikut reaksi dan masalah perilaku klien yang dirawat di rumah sakit, yaitu:
a.    Masa bayi (0-1 th)
Perlu pembentukan rasa percaya diri dan kasih  ocial. Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas. Reaksi berupa:
1)      Menangis keras
2)      Pergerakan tubuh yang banyak
3)      Ekspresi wajah yang tak menyenangkan
b.      Masa social  (2-3 th)
Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan. Disini respon perilaku anak dengan tahapnya.
1)      Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain
2)     Putus asa menangis berkurang, anak tak aktif, kurang menunjukkan minat bermain, sedih, apatis
3)      Pengingkaran/denial
c.       Masa prasekolah (3 sampai 6 tahun)
Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak, tidak mau bekerja sama dengan perawat.
d.      Masa sekolah 6 sampai 12 tahun
Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai , keluarga, kelompok  ocial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan  ocial  berdampak pada perubahan peran dalam kelurga, kehilangan keluarga  ocial, perasaan takut mati, kelemahan fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan dengan verbal dan non verbal.
e.       Masa remaja (12 sampai 18 tahun)
Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Saat merasa cemas karena perpisahan tersebut. Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol. Reaksi yang muncul :
1)      Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan
2)      Tidak kooperatif dengan petugas.
f.       Dewasa
Beberapa klien yang dirawat di rumah sakit mungkin bertindak secara seksual melalui pengucapan kata-kata kotor, mencubit atau kontak sugestif lainnya dengan perawat, atau telanjang, atau memajankan alat genital ketika perawat memasuki ruangannya.
g.      Lansia
Untuk beberapa lansia hospitalisasi mengakibatkan penurunan fungsi, meskipun pengobatan atau perbaikan kondisi mereka dapatkan. Hospitalisasi mengakibatkan komplikasi yang tidak berhubungan dengan masalah yang menyebabkan ia masuk ke rumah sakit atau penanganan spesifik untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan dan dihindari (Potter & Perry, 2005).
6.          Respon Perawat
Tindakan keperawatan pada klien yang mengalami stress karena dirawat di rumah sakit (Kozier, at all, 1989, dalam Rasmun, 2004), yaitu:
a.       Dukungan klien dan keluarga
b.      Mengorientasikan klien tentang rumah sakit dan fasilitasnya
c.       Beri kesempatan klien untuk mempertahnkan identitas
d.      Berikan informasi yang dibutuhkan oleh klien
e.       Ulangi informasi jika klien sukar mengingat
f.       Dorong peran serta klien dalam rencana keperawatan
g.     Beri kesempatan kepada klien untuk dapat mengungkapkan perasaan dan pikirannya
h.     Cermat dalam mengidentifikasi situasi yang dapat meningkatkan stress
i.       Tetapkan harapan klien sesuai dengan kemampuannya
j.       Bantu klien untuk menilai situasi dengan benar dan realistis
k.     Ciptakan lingkungan dimana klien dapat berfungsi mandiri dalam beberapa hal
l.       Beri reinforcement tentang aspek positif yang dapat dilakukan oleh klien
m.   Rencanakan kunjungan dengan klien lain yang mengalami masalah yang sama
n.   Bantu klien dan keluarga untuk kontak dan menggunakan fasilitas dan bantuan yang ada di masyarakat
o.      Bicarakan kemampuan, pengertian dan empati dengan klien dan keluarga.

B.         Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
Pengkajian yang dapat dilakuakn pada klien dengan hospitalisasi (Wanda, 2003) adalah:
a.    Cara berpikir dan persepsi: Apakah klien membuat catatan perilaku agresif? Apakah klien menderita delusi atau halusinasi yang dapat berpotensi membahayakan diri sendiri atau orang lain? (Misalnya, seorang istri menjadi yakin bahwa suaminya sedang mencoba untuk membunuh dia dan dia mendengar suara-suara dalam kepalanya menyuruhnya untuk membunuh dia)
b.    Aktivitas motorik dan bahasa tubuh: Apakah klien menunjukkan peningkatan agitasi psikomotor (gelisah, mondar-mandir) bersama dengan postur tegang, tinju terkepal, atau rahang menegang?
c.    Perasaan: Apakah mempengaruhi klien atau verbalisasi meningkat dalam intensitas, atau memiliki cara yang klien mengekspresikan keinginan dan kebutuhan berubah terasa? (Misalnya, klien berbicara menggunakan nada marah saat ia menyatakan bahwa ia ingin petugas RS untuk membiarkan dia keluar dari rumah sakit).
d.   Keadaan fisik: Apakah klien memiliki kondisi seperti kejang, delirium, atau lesi otak yang dapat mempengaruhi perilaku kekerasan tiba-tiba tanpa peringatan?
e.   Riwayat terdahulu: Apakah klien memiliki riwayat perilaku kekerasan? Beberapa studi menunjukkan bahwa prediksi terbaik dari kekerasan adalah riwayat kekerasan. Riwayat kekerasan terhadap perilaku diri atau lainnya dapat berulang atau mencoba bunuh diri dan penggunaan alkohol, obat-obatan adiktif lainnya, atau obat halusinogen yang mengurangi kontrol atas perilaku (Littrell, 1998)
2.      Diagnosa Keperawatan
Berikut diagnosa keperawatan pada klien hospitalisasi (Boyd & Nihart, 1998), yaitu:
a.       Perubahan proses keluarga,
b.      Perubahan pemeliharaan kesehatan,
c.       Risiko tinggi terhadap kekerasan diri sendiri,
d.      Cemas,
e.       Gangguan interaksi sosial,
f.       Koping individu inefektif,
g.      Gangguan harga diri,
h.      Gangguan pola tidur,
i.        Isolasi sosial,
j.        Gangguan spiritual.
3.      Rencana Intervensi Keperawatan
Di bawah ini contoh diagnosa dan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, yaitu:
a.       Diagnosa keperawatan: koping tidak efektif (Wanda, 2003)
Intervensi:
1)      Sarankan klien mencatat situasi yang menimbulkan kemarahan
2)     Bantu klien untuk mengatasi kemarahan dengan merangsang bicara sendiri.
3)      Ajarkan teknik distraksi.
4)      Ajarkan pikir teknik relaksasi.
5)      Ajarkan klien menghormati perasaan orang lain dan hak-hak orang lain.
6)      Bantu klien mengidentifikasi cara penanggulangan pada saat tegang.
b.      Diagnosa keperawatan: Potensi terjadinya kekerasan (Wanda, 2003)
Intervensi:
1)      Jauhkan benda-benda berbahaya.
2)      Tunjukkan sikap kepedulian dan perhatian terhadap klien
3)         Lakukan pendekatan pada klien dengan berbicara dengan nada suara lembut
4)         Diskusikan harapan terhadap perilaku dan konsekuensi yang akan terjadi.
5)         Berikan kesempatan pada klien untuk mengekspresikan keprihatianan dan mengungkapkan isi hatinya
c.         Diagnosa keperawatan: Perubahan proses keluarga (Wilkinson, 2006)
Intervensi:
1)       Ajari keterampilan merawat pasien yang diperlukan oleh keluarga (misal: manajemen waktu, pengobatan)
2)        Berikan perawatan berkelanjutan dengan mempertahankan komunikasi yang efektif.
3)        Tanyakan pelayanan konsultasi sosial untuk membantu keluarga menentukan kebutuhan pasca hospitalisasi dan identifikasi sumber dukungan di komunitas.
4)        Bantu keluarga dalam mengidentifikasi kekuatan personal.
5)        Dukung keluarga untuk menyatakan perasaan dan masalahnya secara verbal.
d.         Diagnosa keperawatan: Perubahan pemeliharaan kesehatan (Wilkinson, 2006)
Intervensi:
1)      Jelaskan tentang sistem perawatan kesehatan, bagaimana cara kerjanya dan apa yang dapat diharapkan pasien/keluarga.
2)      Informasikan pasien tentang biaya, waktu, alternatif, dan risiko yang timbul dari pemeriksaan atau prosedur tertentu.
3)      Berikan salinan hak-hak pasien pada pasien.
4)         Konsultasikan pada layanan sosial untuk merencanakan kebutuhan pemeliharaan kesehatan pada perencanaan pulang.
e.       Diagnosa keperawatan: Gangguan harga diri (Wilkinson, 2006)
Intervensi:
1)      Tekankan kekuatan diri yang dapat diidentifikasi oleh pasien
2)      Bantu pasien untuk mengidentifikasi respon positif terhadap orang lain
3)      Hindari tindakan yang dapat melemahkan pasien
4)      Kaji pencapaian keberhasilan sebelumnya
5)      Berikan penghargaan atau pujian terhadap perkembangan pasien dalam pencapaian tujuan
6)      Fasilitasi lingkungan dan aktifitas yang dapat meningkatkan harga diri.
f.       Diagnosa keperawatan: Isolasi diri (Wilkinson, 2006)
Intervensi:
1)        Dukung hubunngan dengan orang lain yang mempunyai ketertarikan dan tujuan yang sama
2)        Berikan uji pembatasan interpersonal
3)        Berikan umpan balik tentang peningkatan dalam perawatan diri atau aktifitas lainnya
4)        Harapkan pasien pada hambatan penilaian jika memungkinkan
5)        Dukung pasien untuk mengubah lingkungan seperti pergi jalan-jalan dan menonton film.
g.      Diagnosa keperawatan: Gangguan spiritual (Wilkinson, 2006)
Intervensi:
1)        Gunakan teknik klarifikasi nilai-nilai untuk membantu pasien mengklarifikasi keyakinan dan nilai-nilainya
2)        Dengarkan dengan cermat komunikasi pasien dan kembangkan arti pentingnya berdoa atau aktifitas keagamaan.
3)        Berikan fasilitas dalam beribadah.










Daftar Pustaka

http://texbuk.blogspot.com/2011/06/asuhan-keperawatan-klien-dengan.html#ixzz29ZPOjdbZ
http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/asuhan-keperawatan-klien-dengan-hospitalisasi.html
http://deby-erisaputro.blogspot.com/2009/04/asuhan-keperawatan-klien-dengan-hospitalisasi.html
Keliat, Budi Ana. Keperawatan Jiwa: asuhan-keperawatan-klien-dengan-hospitalisasi. Jakarta. EGC: 2004