Monday, 17 December 2012

ASKEP TBC



ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
Tuberculosis (TBC)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kulih Dokumentasi Keperawatan




AkperAlH
 













Dosen Pengampu :
Rini Indriyani, S.Kep,Ns

Disusun Oleh :
Ahmad Sofa Mubarok
Prigi Priyadi
SlametAgung Taulas
Nuzilatun Ni’mah            


AKADEMI KEPERAWATAN AL HIKMAH 2 BREBES
Jl. PONPES AL HIKMAH BENDA SIRAMPOG – BREBES
2012


KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadiran Allah S.W.T atas berkat rahmat dan karunia-Nya kami sudah dapat menyelesaikan Makalah ini dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Klien DenganTuberculosis (Tbc).
Selawat dan salam kepangkuan Nabi Muhammad S.A.W beserta keluarga dan sahabatnya sekalian.
Disini kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah in memang masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi bahasa, penulisan dan pengolahan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritikan, saran dan masukan yang sifatnya membangun demi tercapainya kesempurnaan dalam mencapai target makalah ini. Terima kasih.


PENULIS


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
Tuberculosis (TBC)

A.      PENGERTIAN
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah.(Price & Wilson,1994)
Tuberkulosis pulmoner adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru, dengan agen infeksius utama Mycobacterium tuberculosis. (Smeltzer & Bare,2001)

B.       ETIOLOGI
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 4 µm dan tebal 0,3 – 0,6 µm dan digolongkan dalam basil tahan asam (BTA). (Suyono, et al 2001)

C.      PATOFISIOLOGI & PATHWAYS
1.         PATOFISIOLOGI
Individu rentan yang menghirup basil tuberculosis dan terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan nafas ke alveoli untuk memperbanyak diri, basil juga dipindahkan melalui system limfe dan pembuluh darah ke area paru lain dan bagian tubuh lainnya.
System imun tubuh berespon dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit menelan banyak bakteri, limfosit specific tuberculosis melisis basil dan jaringan normal, sehingga mengakibatkan penumpukkan eksudat dalam alveoli dan menyebabkan bronkopnemonia.
Massa jaringan paru/granuloma (gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati) dikelilingi makrofag membentuk dinding protektif. Granuloma diubah menjadi massa jaringan fibrosa, yang bagian sentralnya disebut komplek Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami kalsifikasi, memebentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif. Individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respon inadekuat system imun, maupun karena infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini tuberkel ghon memecah, melepaskan bahan seperti keju ke bronki. Bakteri kemudian menyebar di udara, mengakibatkan penyebaran lebih lanjut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak mengakibatkan bronkopnemonia lebih lanjut. (Smeltzer & Bare,2001).
2.         PATHWAYS
Udara tercemar                 dihirup individu rentan            kurang informasi     
Mycobacterium
tuberculosis                               masuk paru                       
                                                                 
                                              menempel alveoli         
                                                                                            
                                        reaksi inflamasi/peradangan

                                penumpukkan eksudat dalam alveoli

                   tuberkel                                                     produksi secret berlebih

meluas     mengalami perkejuan      secret sukar dikeluarkan     dibatukkan/bersin

penyebaran      kalsifikasi                                                           terhirup orang lain
hematogen
limfogen              mengganggu perfusi
    & difusi O2
            peritoneum

            asam lambung ↑

mual, anoreksia








D.      KLASIFIKASI
Klasifikasi tuberculosis di Indonesia yang banyak dipakai berdasarkan kelainan klinis, radiologist dan mikrobiologis :
1.    Tuberkulosis paru
2.    Bekas tuberculosis paru
3.    Tuberkulosis paru tersangka yang terbagi dalam :
a.    TB paru tersangka yang diobati (sputum BTA negatif, tapi tanda-tanda lain positif)
b.    TB paru tersangka yang tidak diobati (sputum BTA negatif dan tanda-tanda lain meragukan). (Suyono, et al 2001)

E.       MANIFESTASI KLINIK
Gambaran klinis tuberculosis mungkin belum muncul pada infeksi awal dan mungkin tidak akan pernah timbul bila tidak terjadi infeksi aktif.bila timbul infeksi aktif klien biasanya memperlihatkan gejala :batuk purulen produktif disertai nyeri dada, demam (biasanya pagi hari), malaise, keringat malam, gejala flu, batuk darah, kelelahan, hilang nafsu makan dan penurunan berat badan. (Corwin,2001)

F.       PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Darah : lekosit sedikit meninggi, LED meningkat
2.    Sputum : BTA dilakukan untuk memperkuat diagnosa TB aktif dan memperkirakan tingkat infeksinya, ini dilakukan selama dalam 3 hari berturut-turut. Pada BTA positif ditemukan sekurang-kurangnya 3 batang kuman dalam satu sediaan, dengan kata lain 5.000 kuman dalam 1 ml sputum.
3.    Tes tuberculin : tes ini dikatakan positif jika indurasi lebih dari 10 – 15 mm.  
4.    Rontgent : Foto thorak PA tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas; pada kavitas berupa cincin; pada kalsifikasi tampak bercak padat dengan densitas tinggi.
5.    Broncografi : pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronkus dan paru.
6.    Pemeriksaan serologi : ELISA, Mycodot, untuk mendeteksi antibody IgG specific terhadap basil TB.
7.    Pemeriksaan PA : pemeriksaan biopsy pada kelenjar getah bening superficial leher, yang biasanya didapatkan hasil limfadenitis pada klien TB.



G.      PENATALAKSANAAN

1.    Pengobatan

Tujuan terpenting dari tata laksana pengobatan tuberkulosis adalah eradikasi cepat M. tuberculosis, mencegah resistensi, dan mencegah terjadinya komplikasi.

Jenis dan dosis OAT :
a.    Isoniazid (H)
Isoniazid (dikenal dengan INH) bersifat bakterisid, efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang. Efek samping yang mungkin timbul berupa neuritis perifer, hepatitis rash, demam Bila terjadi ikterus, pengobatan dapat dikurangi dosisnya atau dihentikan sampai ikterus membaik. Efek samping ringan dapat berupa kesemutan, nyeri otot, gatal-gatal. Pada keadaan ini pemberian INH dapat diteruskan sesuai dosis. 
b.    Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dorman (persisten). Efek samping rifampisin adalah hepatitis, mual, reaksi demam, trombositopenia. Rifampisin dapat menyebabkan warna merah atau jingga pada air seni dan keringat, dan itu harus diberitahukan pada keluarga atau penderita agar tidak menjadi cemas. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak berbahaya.
c.    Pirazinamid (P)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Efek samping pirazinamid adalah hiperurikemia, hepatitis, atralgia.
d.   Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, efek samping dari streptomisin adalah nefrotoksik dan kerusakan nervus kranialis VIII yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran.
e.    Ethambutol (E)
Bersifat bakteriostatik, ethambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman penglihatan, buta warna merah dan hijau, maupun optic neuritis.

2.    Pembedahan

Dilakukan jika pengobatan tidak berhasil, yaitu dengan mengangkat jaringan paru yang rusak, tindakan ortopedi untuk memperbaiki kelainan tulang, bronkoskopi untuk mengangkat polip granulomatosa tuberkulosis atau untuk reseksi bagian paru yang rusak.

3.    Pencegahan

Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberkulosis, mempertahankan status kesehatan dengan asupan nutrisi adekuat, minum susu yang telah dilakukan pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan pengobatan, pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberkulosis virulen.

4.    Prioritas keperawatan TB
Mempertahankan oksigenasi adekuat, mencegah penyebaran infeksi, mendukung perilaku mempertahankan kesehatan, meningkatkan strategi koping efektif, memberi informasi tentang proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan.



ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. A DENGAN
Tuberculosis (TBC)

Pengkajian dilakukan pada tanggal 26 Mei 2008 pukul 12.00 di ruang Umar Rumah Sakit Roemani Semarang.
Biodata
1.      Identitas pasien
Nama                         :  Tn.A
Umur                          :  31 tahun
Jenis                           :  Laki-laki
Suku bangsa               :  Jawa / Indonesia
Agama                       :  Islam
Status perkawinan     :  Belum kawin
Pendidikan                 :  SMA
Pekerjaan                   :  -
Alamat                       :  Semarang
Tanggal masuk           :  22 Mei 2008
No. register                :  24.20.23
Diagnosa medis         :  TB paru
2.      Identitas penanggung jawab
Nama                         :  Tn.K
Umur                          :  56 tahun
Jenis kelamin              :  Laki-laki
Pendidikan                 :  -
Pekerjaan                   :  Swasta
Hubungan dg pasien  :  Ayah

Riwayat Kesehatan

1.      Keluhan utama : mual muntah

2.      Riwayat penyakit sekarang

Pada tanggal 22 Mei 2008 klien datang bersama keluarga, klien dengan keluhan mual-mual diare dan batuk-batuk kemudian klien dirawat inap di ruang Umar Rumah Sakit Roemani Semarang dengan diagnosa TB.

3.      Riwayat penyakit dahulu

± 9 bulan yang lalu klien pernah dirawat di rumah sakit  William Boot dengan keluhan dan diagnosa yang sama, kemudian klien sembuh.

4.      Riwayat keluarga

Dalam keluarga klien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit seperti klien saat ini. Keluarga klien tidak ada yang mempunyai penyakit menular Tetapi kalau penyakit keturunan tidak ada.

Pola Kesehatan Fungsional

1.      Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Klien selalu menjaga kesehatannya. Klien mau mendapat perawatan, klien ingin cepat sembuh upaya yang dilakukan klien untuk mempertahankan kesehatan klien pergi ke dokter. Klien tidak melakukan diit. Klien biasanya makan 3x sehari terkadang telat. Klien melakukan pemeriksaan berkala, kebiasaan hidup klien tidak olah raga. Klien termasuk keluarga sosial ekonomi yang mampu.

2.      Pola nutrisi dan metabolik

Sebelum sakit klien makan 3x sehari dengan komposisi nasi, sayur, buah dan lauk pauk dan minum ± 5-6 gelas sehari.

Selama sakit klien mengalami perubahan dalam makannya, klien makan hanya ½ piring karena perutnya mual-mual. Minum klien 6-7 gelas perhari BB : 40 kg.

3.      Pola eliminasi

Sebelum sakit klien BAB 1 hari satu kali dengan konsistensi lembek, warna kuning bau khas BAK ± 6 kali dalam sehari.

4.      Pola aktivitas dan latihan

Sebelum sakit klien biasanya melakukan aktivitas seperti mandi, ganti baju, makan dan minum, bekerja dilakukan sendiri.

Selama sakit : aktivitas klien seperti mandi, ganti baju, makan dan buang air besar dan kecil selalu dibantu oleh keluarga.


5.      Pola tidur dan istirahat

Sebelum sakit klien biasanya tidur ± 8-9 jam setiap hari dan selama sakit klien tidur dalam sehari ± 8-10 jam setiap hari.

6.      Pola persepsi sensori dan kognitif

Klien tidak ada gangguan dalam kemampuan sensasi seperti penglihatan, pendengaran, pengecapan dan perabaan. Klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Kemampuan kognitif kemampuan mengingat, bicara dapat dipahami dan pesan dapat diterima, klien juga mampu mengambil keputusan. Pola kognitif orang tua klien berharap putranya cepat sembuh.

7.      Pola hubungan dengan orang lain

Hubungan klien dengan keluarga dan tetangga dan petugas kesehatan tidak mengalami perubahan. Kemampuan klien dalam berkomunikasi mampu dipahami oleh orang yang ada di sekelilingnya. Klien selalu ditunggui oleh ibunya.

8.      Pola reproduksi dan seksual

Klien belum mempunyai keluarga, alat kelamin klien tidak ada keluhan seperti nyeri. Klien juga tidak menggunakan alat bantu seperti kateter.

9.      Persepsi diri dan konsep diri

Klien berharap setelah mendapat perawatan sakit klien mengalami perubahan konsep diri.

a.       Citra diri / body image : klien menerima keadaan tubuhnya tetapi sakitnya mempengaruhi tubuhnya seperti BB klien menurun

b.      Identitas, klien seorang laki-laki yang normal, klien puas sebagai laki-laki karena klien mempunyai teman perempuan

c.       Peran : klien berperan sebagai anak yang baik bagi kedua orang tuanya klien berperan sebagai anak yang berbakti dan selalu membantu kedua orang tuanya

d.      Ideal diri : harapan klien terhadap dirinya agar cepat sembuh dan berperan kembali sebagai anak yang baik dan selalu membantu orang tuanya

e.       Harga diri : klien selalu dihargai oleh adik-adiknya. Klien tidak merasa rendah diri dengan keadaannya

10.  Pola mekanisme koping

Apabila ada keluarga klien selalu musyawarah bersama keluarga semua untuk mengambil keputusan bersama. Apabila ada masalah juga selalu dimusyawarahkan bersama. Apabila klien sedang sakit selalu dibawa ke dokter. Apabila keluarga klien ada masalah selalu ditanggung bersama. Klien sudah merasa senang dirawat di Rumah Sakit Roemani.

11.  Pola nilai kepercayaan / keyakinan

Klien beragama Islam klien selalu sholat 5 waktu dan klien selalu berharap dan berdoa agar sakitnya cepat sembuh. Klien juga yakin kalau kita berusaha pasti dapat sembuh.

Pengkajian Fisik

1.      Keadaan umum : cukup

2.      Tingkat kesadaran : composmentis

3.      Tanda-tanda vital

TD : 120/80 mmHg     N : 82 x/mnt     RR : 32 x/mnt       S : 36,50C

4.      Pengukuran antropometri

TB : 165    BB : 40 kg      Lingkar lengan atas : 42 cm

5.      Kepala : mesocepal

Rambut : hitam, pendek

Mata : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, adanya sekret

Hidung : tidak ada polip hidung, tidak ada cuping hidung, tidak ada O2

Telinga : tidak ada nyeri tekan, tidak menggyunakan alat bantu

Mulut : bibir kering, tidak ada sianosis

6.      Leher dan tenggorok : tidak ada benjolan pada leher, tidak memakai alat trakea stormy, tidak ada nyeri ketika menelan

7.      Dada dan thorax : simetris, tidak ada lesi atau luka ejjas

8.      Paru-paru Ins    : ekspansi dada simetris ada retraksi dada

                       Aus  : terdengar suara ronchi basah pada paru kanan dan kiri

                       Pel    : sonor

                       Pal    : Vesikuler

9.      Jantung Ins       : ictus cordis tidak tampak

                      Per    : konfigurasi jantung dalam batas normal

Pal   : teraba ictus cordis di intercosta 4 menjadi clavikula

  Aus    : bunyi jantung II murni, tidak ada gallop

10.  Abdomen Ins   : datar

Per   : tympani

Pal   : tidak ada pembesaran hati dan limpa

Aus  : bising usus 15x /menit

11.  Genetalia : tidak menggunakan alat bantu kateter, tidak ada hemoroid

12.  Ekstremitas : terpasang infus di tangan kanan, tidak ada edema, dan tidak ada jejas

13.  Kulit : warna putih, tidak ada luka ataupun jahitan, tidak ada infeksi di tusukan infus dan tidak ada balutan dan tidak ada jejas

Data Penunjang

Laboratorium tanggal 22 Mei 2008

Nama

Hasil

Nama

Hasil

Hemoglobin

10.8g/dl

Limfosit

9%

Leukosit

15.400/mm3

Monosit

7%

Trombosit

746.000/mm3

LED

98mm/jam

Hematokrit

34.9%

Erytrosit

4.06jt/mm3

Eosinofil

1%

MCV

86umb

N-segmen

82%

MCH

26pq

Basofil

1%

MCHC

31g/dl

 

Imunoserologi

Nama

Hasil

Nama

Hasil

Globulin

5.46g/dl

Calsium

14.1mmol/l

Albumin

3.10g/dl

Kalium

44mmol/l

SGOT

13u/L

Natrium

155mmol/l

SGPT

17u/L

Chloride

122mmol/l

 

Urinalisa

Nama

Hasil

Nama

Hasil

Warna

kuning

Eritrosit

1-2/I pb

Kekeruhan

agak keruh

Kristal

negatif

Keasaman

6.0

Cylinder granuler

1-2/I pk

Protein

(+ 4)

Urobilinogen

negatif

Reduksi

negatif

Bilirubin

negatif

Epitel

3-5/I pk

Bakteri
positif
Lekosit
2-3/I pb

 

 

 

 

 

 

 



Feices

Nama

Hasil

Nama

Hasil

Warna

hijau

Telur cacing

negatif

Konsistensi

cair

Lekosit

1-2/I pb

Lendir

positif

Eritrosit

1-2/I pb

Parah

negatif

Sisa makanan

positif

Amoeba

negatif

Bakteri

Positif

Jamur

positif

Sudan III

negatif


Pemeriksaan thorax tanggal 22 Mei 2008

-          Tanda atelektasi pulma destra disertai air mungkin karena TB destra

-          Tanda TB sinistra lama aktif

Therapy

Po : Nori F

Caprofil 1x1

Metronedosol 3x500 gr

Cefotaksin 2x1 gr

Ranititin 1x2 ampul

 



Analisa Data

No
Data
Masalah (P)
Etiologi (E)
1.
DS :  Klien mengeluh mual-mual, muntah, tidak nafsu makan.
DO :  Klien mual, kadang muntah, makanan tidak habis. Porsi makan 3x sehari tapi telat dengan BB 40 Kg
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Mual, muntah dan anoreksia.
2.
DS :  Klien mengeluh kalau batuk tidak keluar sekret.
DO :  Klien batuk tetapi tidak mengeluarkan sekret.
Ketidakefektifnya bersihan jalan nafas.
Sekret sukar dikeluarkan
3.
DS :  Ibu klien mengatakan belum begitu tahu tentang penyakit yang dialami anaknya.
DO :  Ibu klien menanyakan sakitnya.
Kurang pengetahuan
Kurangnya informasi yang berhubungan dengan penyakit tuberculosis.

Diagnosa Keperawatan

No
Diagnosa
TT
1.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan anoreksia ditandai dengan klien mengeluh mual-mual, muntah, tidak nafsu makan.

2.
Ketidakefektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan Sekret sukar dikeluarkan ditandai dengan klien mengeluh kalau batuk tidak keluar sekret.

3.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang berhubungan dengan penyakit tuberculosis ditandai dengan ibu klien mengatakan belum begitu tahu tentang penyakit yang dialami anaknya.





Rencana Keperawatan
Tanggal
No. Dx.
Tujuan & Kriteria Hasil
Rencana
26-10-12
1.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi adekuat dengan kriteria hasil menunjukkan berat badan meningkat, melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan BB.
-        Catat status nutrisi pada saat datang
-        Pastikan makanan dari rumah sakti disukai klien
-        Awasi masukan / pengeluaran dan BB secara periodik
-        Anjurkan klien makan sedikit tapi sering
-        Kolaborasi dengan ahli gizi
26-10-12
2.
Setelah dilakukan perawatan untuk mempertahankan jalan nafas dengan kriteria hasil :
-        Mengeluarkan sekret / sputum tanpa bantuan
-        Menunjukkan perilaku bersihan jalan nafas
-        Berpartisipasi dalam program pengobatan.
-        Kaji fungsi pernafasan, kedalaman dan penggunaan otot aksesori
-        Anjurkan klien untuk mengeluarkan sekret
-        Berikan posisi semi fowler
-        Menganjurkan klien untuk banyak minum
-        Kolaborasi otot-otot sesuai indikasi
26-10-12
3.
Setelah dilakukan penyuluhan penyakit tuberculosis klien dan keluarga mengetahui penyebab, tanda penyakit tuberculosis
-        Memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit TB Paru
-        Memberikan pengertian, tanda-tanda dan gejala tentang penyakit TB Paru.






Implementasi
Tgl/Jam
No Dx
Tindakan Keperawatan
Respon
TT
26-10-12
12.00
1
Mencatat status nutrisi klien penerimaan
S  :  -
O :  BB 40 kg


1
Menganjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering
S  :  Klien kooperatif
O :  Klien mencobanya


1
Mengkaji makanan yang diberi rumah sakit apakah klien suka atau tidak.
S  :  Klien mengatakan suka makanan yang beri rumah sakit.
O :  Klien makan Cuma ½ porsi karena mual.


1
Kolaborasi dengan ahli gizi diit TKTP
S  :  -
O :  Klien mendapat diit cair (bubur)

27-10-12
08.00
II
Mengkaji kecepatan dan ketidakadekuatan dan penggunaan otot aksesori.
S  :  -
O :  RR 22 x/mnt tidak menggunakan otot bantu.


II
Mengajarkan klien batuk efektif.
S  :  Klien kooperatif
O :  Klien mencobanya


II
Memberikan posisi tidur semi fowler.
S  :  -
O :  Klien sudah tidur semi fowler.



Menganjurkan klien untuk oral hygiene (sikat gigi, cuci mulut)
S :   Klien mengatakan mau sikat gigi
O :  Klien sedang berkumur dengan pencuci mulut



Menganjurkan klien untuk banyak minum.
S  :  Klien akan berusaha untuk banyak minum.
O :  Klien sedang minum air putih.



Memonitor tetesan infus.
S  :  -
O :  Infus RL 20 tetes




Memberikan terapy sesuai advis.
S  :  Injeksi masuk
O :  Memberikan terapy ranitidine 1 ampul



Mengajarkan klien untuk relaksasi.
S  :  Klien mengikuti perawat untuk relaksasi.
O :  Klien mencobanya



Mempertahankan cairan infus parenteral.
S  :  -
O :  Infus terpasang pada tangan kiri jenis RL 20 tpm



Mengkaji penurunan bunyi nafas.
S  :  -
O :  Tidak terjadi penurunan bunyi nafas.



Mengobservasi KU pasien.
S  :  -
O :  KU cukup, composmentis



Menganjurkan klien untuk tirah baring, batasi aktivitas dan menganjurkan keluarga untuk membantu aktifitas klien seperlunya.
S  :  Klien dan keluarga kooperatif
O :  Klien tirah baring dan keluarga sedang membantu klien (mengambilkan makan dari meja ke dekat klien)



Memonitor TTV
S  :  -
O :  TD 120 mmHg, N: 82 x/mnt, RR: 22 x/mnt, S: 365 oC



Mengkaji pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit TB Paru.
S  :  Keluarga mengatakan penyebab penyebab penyakit TB karena kuman tapi tidak tahu kuman apa?
O :  Keluarga mengatakan penyakit TB paru karena kuman.




Mengkaji tanda-tanda yang muncul pada klien pertama kali.
S  :  Ibu klien mengatakan klien sering batuk
O :  Ibu mengatakan anaknya sering batuk.



Memberikan penyuluhan tentang penyakit TB Paru.
S  :  Keluarga dan klien kooperatif
O :  Memberikan penyebab kuman, penyebab TB paru dan tanda-tandanya



Menganjurkan klien untuk makan dan minum obat.
S  :  Klien menganguk
O :  Klien makan ½ porsi dan minum obat.


Evaluasi
Tgl/Jam
No Dx
Evaluasi
TT
27-10-12
08.00
1
S  :  Mengatakan mual muntah, anoreksia berkurang.
O :  Klien sudah menghabiskan makanan dari rumah sakit, BB : 36 kg.
A :  Masalah teratasi sebagian.
P  :  Lanjutkan intervensi.

27-10-12
096.00
2
S  :  Klien mengatakan sudah bisa mengeluarkan sekret sedikit-sedikit.
O :  Klien masih batuk-batuk dan berusaha sedang batuk efektif.
A :  Masalah teratasi sebagian.
P  :  Lanjutkan intervensi.

27-10-12
11.00
3
S  :  Ibu klien mengatakan penyebab TB paru karena kuman tuberculosis dan tanda-tandanya antara lain batuk, keringat malam hari tanpa aktivitas.
O :  Ibu klien kooperatif.
A :  Masalah teratasi.
P  :  Pertahankan intervensi.




DAFTAR PUSTAKA

1.            Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)
2.            Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical–surgical nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A.  Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
3.            Reeves, C.J., Roux, G., Lockhart, R. Medical – surgical nursing. Alih bahasa : Setyono, J. Jakarta: Salemba Medika; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1999)
4.            Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
5.            Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)
6.            Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa,I.M. Jakarta: EGC; 1999 (Buku asli diterbitkan tahun 1993)
7.            Suyono, S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2001