Tuesday, 18 December 2012

Askep Eliminasi Fekal



ASUHAN KEPERAWATAN PADA ELIMINTASI FEKAL

Di susun dan diajukan untuk memenuhi  tugas kelompok mata kuliah
Kebutuhan Dasar Manusia II ”


Dosen Pengampu :
Eka muzyanti, S.Kep


AKADEMI KEPERAWATAN AL HIKMAH 02
BENDA SIRAMPOG BREBES
2012
BAB I
ASUHAN KEPERAWATAN


A.   Pengkajian keperawatan
1.      Pola defekasidan keluhan selama defekasi
Pengkajian ini antara lain : bagaimana pola defekasi dan keluhannya selama defekasi, secara normal, frekuensi buang air besar pada bayi sebanyak 4-6 kali/hari, sedangkan orang dewasa adalah 2-3 kali/hari dengan jumlah rata-rata pembuangan per hari adalah 150 g.
2.      Keadan feses, meliputi:
No
Keadaan
Normal
Abnormal
Penyebab
1.
warna
Bayi, kuning.
Putih, hitam/tar, atau merah
Kurang kadar empedu, perdarahan saluaran saluaran cerna bagian atas, atau peradangan saluran cerna bagian bawah


Dewasa: coklat
Pucat berlemak
Malabsorpsi lemak
2.
Bau
Khas feses dan dipengaruhi oleh makanan
Amis dan perubahan bau
Darah dan infeksi
3.
konsistensi
Lunak dan berbentuk.
cair
Diare dan absorpsi kurang.
4.
bentuk
Sesuai diameter rektum
Kecil, bentuknya sesperti pensil.
Obstruksi dan peristaltik yang cepat
5.
konsituen
Makanan yang dicerna, bakteri yang maati, lemak, pigmen, empedu, mukosa usus, air
Darah, pus, benda asing, mukus, atau cacing.
Internal belding, infeksi, trtelan bendam iritasi, atau inflamasi.

3.      Faktor yang mempengaruhi eliminasi fekal:
Faktor yang meningkatkan Eliminasi :
1.      Lingkungan yang bebas
2.      Kemampuan untuk mengikuti pola defekasi pribadi, privasi.
3.       Diet tinggi serat
4.       Asupan cairan normal (jus buah, cairan hangat)
5.       Olahraga
6.       Kemampuan untuk mengambil posisi jongkok
7.       Laksatif atau katartik secara tepat
Faktor yang merusak eliminasi :
1.      Stress emosional
2.      Gagal mencetuskan refleks defekasi, kurang waktu atau kurang privasi
3.       Diet tinggi lemak, tinggi KH
4.       Asupan cairan berkurang
5.       Imobilitas atau tidak aktif
6.       Tidak mampu jongkok, mis : usila, deformitas muskulo, nyeri defekasi
4.      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaaan fisik yang meliputi keadaan abdomen seperti ada atau tidaknya distensi, simetris atau tidak, gerakan peristaltik, adanya massa pada perut, dan tenderness.

B.   Diagnosa Keperawatan
1.      Konstipasi berhubungan dengan:
ü  Tidak adekuatnya diet berserat
ü  Immobilisasi/ tidak adekuatnya aktifitas fisik
ü  Tidak adekuatnya intake cairan
ü  Nyeri saat defekasi
ü  Perubahan kebiasaan rutin (pemasukan diet)
ü  Penyalahgunaan laksatif
ü  Menunda defekasi
ü  Penggunaan obat yang menyebabkan konstipasi (anti analgesic, antacid dan antikolinergal)

2.      Diare sehubungan dengan:
ü  Stress emosinal, cemas
ü  Tidak toleransi terhadap makanan (makanan busuk, beracun)
ü  Gangguan diet
ü  Inflamasi (radang) bowel
ü  Efek samping obat
ü  Alergi
ü  Tindakan huknah
3.      Inkontinensia bowel sehubungan dengan:
ü  Gangguan system syaraf sentral
ü  Injuri spinal cord
ü  Ketidakmampuan menahan defekasi
ü  Diare
ü  Impaktion fekal
ü  Gangguan proses fakir/persepsi
ü  Kelemahan
4.       Potensial kekurangan volume cairan sehubungan dengan diare

C.   Perencanaan Keperawatan
Tujuan:
a.       Mengenal eliminasi normal.
b.      Kembali kekebiasaan defekasi yang regular
c.       Cairan dan makanan yang sesuai
d.      Olah raga teratur
e.       Rasa nyaman terpenuhi
f.       Integritas kulit dapat dipertahankan
g.      Konsep diri baik
Rencana tindakan:
1.      Kaji perubahan fakor yang memengaruhi maslah eliminasi fekal.
2.      Kurang faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah seperti:
a.       Konstipasi secara umum
-          Membiasakan pasien untuk buang air secara teratur, misalnya pergi ke kamar mandi satu jam setelah makan pagi dan tinggal di sana sampai ada keinginan untuk buang air.
-          Meningkatkan asupan cairan dengan banyak minum.
-          Diet yang seimbang dan makan bahan makanan yang banyak mengandung serat.
-          Melakukan latihan fisik, misalnya melatih otot perut.
-          Mengaturposisi yang baik untuk buang air besar, sebaiknya posisi duduk dengan lutut melentur agar otot punggung dan perut dapat membantu prosesnya.
-          Anjurkan untuk tidak memaksakan diri dalam buang air besar.
-          Berikan obat laksanatif, misalnya dulcolaxTM atau jenis obat supositoria.
-          Lakukan enema (huknah)
b.      Konstipasi akibat nyeri
-          Tingkatkan asupan cairan.
-          Diet tingkat serat
-          Tingkatkan latihan setiap hari
-          Berikan pelumas disekitar anus untuk mengurangi nyeri
-          Kompres dingin sekitar anus mengurangi rasa gatal.
-          Rendamduduk atau mandi di bak dengan air hangat (43-46 derjat celcius, selama 15 menit) jika nyeri hebat.
-          Berikan pelunak feses.
-          Cegah duduk lama apabila hemoroid, dengan cara berdiri tiap 1 jam kurang lebih 5-10 menit untuk menurunkan tekanan.
c.       Konstipasi kolonik akibat perubahan gaya hidup
-          Berikan stimulus untuk defekasi, seperti minum kopi atau jus
-          Bantu pasien untuk menggunakan pispot bila memungkinkan.
-          Gunakan kamar mandi daripada pispot bila memungkinkan.
-          Ajarkan latihan fisik dengan memberikan ambulasi, latihan rentang gerak, dan lain-lain.
-          Tingkatkan diet tinggi serat buah dan sayuran.
d.      Inkontinensia usus
-          Pada waktu tertentu setiap 2 atau 3 jam, letakkan pot di bawah pasien.
-          Berikan latihan buang air besar dan anjurkan pasien untuk selalu berusaha latihan.
-          Kalau inkon tinensia hebat, diperlukan adanya pakaian dalam yang tahan lembab, supaya pasien dan sprei tidak begitu kotor.
-          Pakai laken yang dapat dibuang dan menyenangkan untuk dipakai.
-          Untuk mengurangi rasa malu pasien, perlu didukung semangat pengertian perawatan khusus.
3.      Jelaskan mengenai eliminasi yang normal kepada pasien.
4.      Pertahankan asupan makanan dan minuman.
5.      Bantu defekasi secara manual.
6.      Bantu latihan buang air besar, dengan cara:
-          Kaji pola eliminasi normal dan cacatwaktu ketika inkontinensia terjadi.
-          Pilih waktu defekasi untuk mengukur kontrolnya.
-          Berikan pelunak feses (oral) setiap hari atau katartik supostoria setengah jam sebelum waktu defekasi ditentukan.
-          Anjurkan pasien untuk minum air hangat atau jus buah ( minuman yang merangsang peristaltik) sebelum waktu defekasi.
-          Bantu pasien ke toilet (program ini kurang efektif jika pasien mengggunakan pispot).
-          Jaga privasi pasien dan batasi waktu defekasi (15-20 menit).
-          Instruksikan pasien untuk duduk di toilet, gunakan tangan untuk menekan perut terus ke bawah dan jangan mengendan untuk merangsang pengeluaran feses.

D.   Pelaksanaan Keperawatan
Menyiapkan Fases Untuk Bahan Pemeriksaan
Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan merupakan cara yang dilakukan untuk mengambil fases sebagai bahan pemeriksaan, yaitu pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan kultur (pembiakan)
1.      Pemeriksaan fases lengkap merupakaan pemeriksaan fases yang terdiriatas pemeriksaan warna, bau konsistensi, lendir, darah, dan lain-lain.
2.      Pemeriksaaan fases kultur merupakan pemeriksaan fases melalui biakan dengna cara taoucher (prosedur pengambilan fases melalui tangan).

Alat:
·         Tempat penampung atau botol penambung beserta penutup.
·         Etiket khusus.
·         Dua batang lidi kapas sebagai alat untuk mengambil fases.

Prosedur kerja:
1.      Cuci tangan.
2.      Jelas prosedur yang dilakukan.
3.      Anjurkan pasien untuk buang air besar lalau ambil fases melalui lidi kapas yang elah di keluarkan, setelah selesai anjurkan pasien untuk membersihkan daerah sekitar anusnya.
4.      Masukkan bahan pemeriksaan kedalam botolyang telah disediakan..
5.      Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan.
6.      Cuci tangan.
               
E.   Evaluasi keperawatan
Evaluasi terhadap masalah kebutuhan eliminasi fekal dapat dinilai dengan adanya kemampuan dalam.
1.      Memahami cara eliminasi yang normal.
2.      Melakukan latihan secara teratur, seperti rentang gerak atau lain (jalan, berdiri, dan lain-lain).
3.      Mempertahankan defekasi secara normal yang ditunjukkan ddenga keampuan pasien dalam pengontrol pasien dalam mengontrol defekasi tanpa bantuan obat/enema, berpatisipasi dalam program latihansecara teratur,defekasi tanpa harus mengedan.
4.      Mempertahankan rasa nyaman yang ditunjukkan dengan kenyamanan dalam kemampuan defekasi, tidak terjadi bleeding,tidak terjadi imflamasi, dan lain-lain.
5.      Mempertahankan integrasi kulit yang ditunjukkan keringnya area perianal, tidak adainflamasi atau ekskoriasi, keringnya kulit sekitar stoma, dan lain-lain.





BAB III
PENUTUP

A.       KESIMPULAN
·         Eliminasi merupakan pengeluaran zat-zat sisa metabolisme yang sudah tidak lagi dibutuhkan oleh tubuh dalam proses aktivitasnya.
·         Eliminasi sangatlah penting artinya bagi tubuh kita, karena gangguan proses eliminasi akan mengganggu aktivitas tubuh yang lain pula.
·         Jika dalam tubuh kita tidak ada proses eliminasi/pengeluaran, maka akan terjadi pengakumulasian zat-zat sisa metabolisme yang nantinya hanya akan menjadi pengganggu kegiatan tubuh individu.
·         Eliminasi fekal melibatkan seluruh organ pencernaan mulai dari mulut sampai dengan anus.
·         Gangguan pada salah satu organ pencernaan akan mengubah proses eliminasi secara normal.

B.       SARAN

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan eliminasi, kita mempunyai tujuan utama yaitu mengembalikan pola normal eliminasi seorang pasien.  Di samping itu, kita juga harus mengatasi masalah-masalah sampingan yang timbul karena gangguan eliminasi tersebut.
Komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien baik secara verbal maupun nonverbal merupakan teknik yang harus dikuasai oleh seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada seorang pasien.
Di dalam melaksanakan asuhan keperawatan, hendaknya perawat melaksanakannya sesuai dengan diagnosa keperawatan, tujuan dan intervensi yang telah dirumuskan.




DAFTAR PUSTAKA

A.Aziz Alimul H. 2006, penerbit medika, Jl. Raya Lenteng Agung No. 101 jagakarsa, jakarta.