Monday, 5 August 2013

ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI KASUS 5




ASUHAN KEPERAWATAN
EPILEPSI
KASUS 5

            Tn. X, 46 th masuk rumah sakit dengan riwayat penyakit sejak satu bulan ini sering kejang-kejang, kejang kadang dimulai dari kedua tangan kemudian menjalar ke seluruh tubuh dengan kejang tonik klonik, pada saat kejang kesadaran menurun. Dari pengkajian yang dilakukan terhadap keluarga didapatkan keluarga mengatakan bahwa kurang lebih satu tahun yang lalu pernah kejang seperti sekarang hanya tidak begitu sering bahkan pernah jatuh dari tempat tidur saat kejang, sesudah kejang badan pegal-pegal dan kepala nyeri, dari diagnosa sementara dokter adalah epilepsi. Tn X juga punya riwayat post trauma kepala pada umur 21 th. Pada saat dilakukan wawancara dengan pasien, pasien mengatakan merasakan malu dengan penyakit yang dideritanya, karena sering dipergunjing orang sekitar sehingga jarang keluar rumah. Dari pemeriksaan fisik didapatkan, reflex fisiologis hiper reflex dan reflex patologis ( - ) / negative, rangsang meningeal ( kaku kuduk negative, Brudzinky I dan II negative ), kekuatan ekstremitas normal. T = 110/70 mmHg, suara jantung S1>S2 reguler, RR = 16 x/menit, N = 80 x/menit. Pada pemeriksaan penunjang berupa EEG didapatkan ada gelombang hiperaktif pada lobus temporalis, pada pemeriksaan radiologi berupa Ct-Scan tampak ada gambaran atropi serebral. Pengobatan, anti kejang ( penithoin 3 x 100 mg ), Neurotam 2 x 3 gr.


ANALISA DATA

Hari/Tanggal
Data
Problem
Etiologi
Paraf
Selasa,
27 Desember 2011
DS : Pasien mengatakan sejak 1 bulan ini sering kejang, kejang kadang dimulai dari kedua tangan kemudian menjalar ke seluruh tubuh, pada saat kejang kesadaran menurun, kurang lebih 1 tahun yang lalu pernah kejang seperti sekarang hanya tidak begitu sering, bahkan pernah jatuh dari tempat tidur saat kejang.

DO : - Kejang tonik klonik.
-  EEG didapatkan ada gelombang hiperaktif pada lobus temporalis.
-  Radiologi Ct-Scan ada gambaran atropi serebral.

Resiko injury

Resiko kejang berulang

Selasa,
27 Desember 2011
DS : Pasien mengatakan sesudah kejang badan pegal-pegal dan kepala nyeri.
        P : Nyeri disebabkan oleh kejang.
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk.
R : Di bagian kepala.
S : 7
T : Nyeri terasa sesudah kejang.

DO : Pasien terlihat meringis kesakitan.

Nyeri akut
Faktor biologis


Selasa,
27 Desember 2011
DS : Pasien mengatakan merasa malu dengan penyakit yang dideritanya, karena sering dipergunjing orang sekitar sehingga jarang keluar rumah.
DO : Pasien terlihat malu dan tidak percaya diri.

Harga diri rendah situsional
Gangguan citra tubuh


PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Resiko injury b.d resiko kejang berulang.
2.      Nyeri akut b.d faktor biologis.
3.      Harga diri rendah situsional b.d gangguan citra tubuh.

INTERVENSI
No
Tanggal
Diagnosa Keperawatan
NOC
NIC
Paraf
1
Selasa,
27 Desember 2011
Resiko injury b.d resiko kejang berulang
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan klien terbebas dari resiko injury dg KH :
1.    Pengetahuan tentang resiko.
2.    Mengatur strategi pengontrolan seperti yang dibutuhkan.
3.    Memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
4.    Menghindari paparan yg bisa mengancam kesehatan.
ENVIRONMENTAL MANAGEMENT ( Manajemen lingkungan).
1.    Sediakan lingkungan yg aman untuk pasien.
2.    Berikan Obat Antikonvulsan Contoh : Penithoin 3 x 100 mg, Neurotam 2 x 3 gr.
3.    Identifikasi kebutuhan keamanan pasien sesuai dg kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien.
4.    Hindarkan lingkungan yg berbahaya ( Misalnya memindahkan perabotan )
5.    Sediakan tempat tidur yg nyaman dan bersih.
6.    Membatasi pengunjung.
7.    Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien, mengontrol lingkungan dari kebisingan.
8.    Memindahkan barang-barang yg dapat membahayakan.



2
Selasa,
27 Desember 2011
Nyeri akut b.d faktor biologis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan nyeri teratasi, dg KH (2102) :
1.    Melaporkan adanya nyeri.
2.    Luas bagian tubuh yg terpengaruh.
3.    Frekuensi nyeri.
4.    Ekspresi nyeri pada wajah.

PAIN MANAGEMENT ( Menejemen nyeri ) 1400 :
1.    Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
( PQRST ).
2.    Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien.
3.    Kaji kultur yg mempengaruhi respon nyeri.
4.    Kontrol lingkungan yg dpt mempengaruhi nyeri seperti, suhu ruangan dan pencahayaan.
5.    Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri, contoh :  captrophil.
6.    Monitor penerimaan pasien tentang menejemen nyeri.



3
Selasa,
27 Desember 2011
Harga diri rendah situsional b.d gangguan citra tubuh.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, diharapkan klien mempunyai kepercayaan diri dg indikator :
1.    Menunjukan ke arah penerimaan diri.
2.    Menyusun tujuan yg realistik dan secara aktif berpartisipasi dalam program terapi.

1.    Dorong pertanyaan tentang situasi saat ini dan harapan yang akan datang, berikan dukungan emosional bila balutan bedah diangkat.
2.    Identifikasi masalah peran sebagai .
3.    Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan, misalnya : marah, bermusuhan, dan berduka.